Jelaskan Pendidikan Gibran di Singapura, Prof Sulfikar Amir Ulas Perbedaan MDIS dan A-Level

PORTALUTAMA.NET – Profesor Sulfikar Amir dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura kembali memberikan penjelasan terkait polemik pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Singapura. Isu tersebut kembali menjadi sorotan setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada 6 Oktober 2026.
Sulfikar menjelaskan perbedaan antara program Advanced Diploma yang ditawarkan sejumlah lembaga pendidikan swasta di Singapura dan kualifikasi A-Level yang menjadi salah satu jalur menuju perguruan tinggi di negara tersebut.
“Kalau yang ditanya anak-anak Singapura, mereka akan mengamuk. Karena untuk menyelesaikan A-Level itu susah sekali. Di ujungnya, A-Level itu ada ujian. Di mana mereka harus mengambil subjek-subjek yang sangat spesifik,” kata Sulfikar, Kamis (15/10/2026).
Sulfikar Amir Jelaskan Sulitnya Ujian A-Level di Singapura
Sulfikar menjelaskan, terdapat dua kelompok mata pelajaran utama yang dapat dipilih dalam jalur A-Level, yakni sains serta humaniora dan seni.
Kelompok sains mencakup fisika, biologi, dan kimia. Sementara itu, kelompok humaniora dan seni mencakup ekonomi, geografi, sejarah, serta bahasa dan sastra. Matematika juga menjadi salah satu mata pelajaran yang dapat diambil dalam sistem tersebut.
“Anak-anak yang ambil A-Level itu harus ujian ini, yang superberat. Dan itulah yang menentukan masa depan mereka, ujian SMA. Jadi, ketika mereka menyelesaikan itu, barulah mereka bisa mendaftar di universitas-universitas di Singapura yang superkompetitif,” ungkapnya.
Menurut Sulfikar, persaingan untuk masuk perguruan tinggi di Singapura sangat ketat. Ia menyebut hanya sekitar 30 persen lulusan A-Level dan politeknik yang dapat ditampung di universitas-universitas di negara tersebut.
Sementara itu, sebagian lulusan lainnya memilih melanjutkan pendidikan ke luar negeri, seperti Australia, Amerika Serikat, China, dan Inggris, karena keterbatasan daya tampung perguruan tinggi di Singapura.
Ia juga menyebut bahwa lulusan dengan kemampuan akademik yang relatif lebih rendah atau keterbatasan biaya dapat memilih lembaga pendidikan swasta, seperti Management Development Institute of Singapore (MDIS).
Soroti Sistem Meritokrasi dan Peluang Kerja Lulusan MDIS
Sulfikar menilai masyarakat Singapura memiliki sistem meritokrasi yang menempatkan pencapaian dan kualifikasi sebagai faktor penting. Menurut dia, sistem tersebut dapat menciptakan persaingan ketat, terutama bagi mereka yang dianggap mengambil jalur pendidikan alternatif.
“Jadi, lulusan lembaga pendidikan seperti MDIS biasanya agak sulit untuk mendapatkan pekerjaan di pemerintah. Karena dianggap tidak memiliki kualifikasi yang sesuai dengan mereka lulusan A-Level yang kemudian masuk ke universitas kampus utama. Kampus utama itu misalnya NUS, NTU,” jelasnya.
Source link
