250 Tahun Kemerdekaan AS, Shamsi Ali: Menjadi Warga Amerika adalah Tentang Rasa Hormat dan Tanggung Jawab

Fajar.co.id, New York – Hari Kemerdekaan Amerika Serikat yang diperingati setiap 4 Juli kembali menjadi momen refleksi bagi warga negara itu, termasuk para diaspora Indonesia yang kini menyebut Amerika sebagai rumah.
Tahun ini peringatan 4 Juli itu terasa istimewa karena bertepatan dengan peringatan 250 tahun kemerdekaan AS dari Inggris.
Shamsi Ali Al-Nuyorki, salah seorang disapora Indonesia berdarah Kajang Bulukumba yang kini menjadi warga Amerika, menulis refleksi dalam bahasa Inggris berjudul “To Be American: a Reflection on Independence Day”.
Melalui tulisannya yang dikirim ke fajar.co.id Minggu (5/7/2026) Shamsi Ali menegaskan bahwa Amerika bukan hanya soal wilayah, kekuatan militer, ekonomi, atau kemajuan sains dan teknologi.
“Lebih mendalam lagi, Amerika adalah sebuah gagasan. Ia adalah seperangkat nilai: demokrasi, kebebasan, keadilan, kesetaraan, dan hak untuk mengejar kebahagiaan,” tulis Shamsi.
Sebagai seorang Muslim kelahiran Indonesia dengan warisan budaya Asia, Shamsi Ali mengaku identitas ganda justru mempererat ikatannya dengan Amerika. Ia menyebut identitas itu tidak statis, melainkan proses “menjadi” yang terus berubah seiring waktu, komunitas, dan perjalanan hidup.
“Identitas Amerika juga tidak diukir di atas batu granit. Ia berkembang bersama setiap generasi, setiap era, setiap suara baru yang ditambahkan ke dalam paduan suara,” katanya.
Shamsi menyoroti kekuatan Amerika pada keberagaman dan multikulturalisme. Menurutnya, bangsa yang lahir dari para imigran ini justru menemukan kekuatannya dari kebebasan berbagai budaya dan keyakinan untuk tumbuh.
Jika selama ini metafora multikulturalisme Amerika berubah dari “mosaik” menjadi “rasa memiliki”, “harmoni”, hingga “kesesuaian”, Shamsi menawarkan kata baru untuk era sekarang yakni “rasa hormat”.
“Menjadi warga Amerika bukan hanya lahir di tanah ini, memegang paspor Amerika, atau menuntut hak individu. Menjadi warga Amerika adalah menjadi warga negara yang bertanggung jawab, dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan,” ujarnya.
Ia mengutip filsuf abad ke-17 Spinoza, “Warga negara dibentuk, bukan dilahirkan”. Kalimat itu, katanya, paling benar diterapkan di Amerika.
Bagi Shamsi, menjadi orang Amerika berarti bebas bermimpi, bebas berbicara, bebas tertawa, bebas hidup, bebas beribadah, serta bebas membawa budaya tanpa rasa takut. Sekaligus berarti setia, patriotik, dan memperlakukan sesama manusia serta bangsa lain dengan martabat.
“Menjadi orang Amerika adalah menerima. Hidup dengan rasa hormat kepada mereka yang berbeda dari kita. Berbelas kasih dan memberi dengan murah hati, terutama kepada mereka yang kurang beruntung,” tulisnya.
Source link
