News

UAS Kritik Polemik Ijazah Gibran, Guru Besar Minta Prabowo Dengarkan Rakyat



PORTALUTAMA.NET – Ustaz Abdul Somad (UAS) ikut menyoroti polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang kembali menjadi perbincangan setelah sidang putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Dalam pernyataannya, UAS menceritakan pengalamannya setelah menyelesaikan pendidikan S1 di Mesir selama empat tahun dan S2 di Maroko selama dua tahun. Meski membawa dua ijazah dari luar negeri, ia mengaku gagal menjadi dosen setelah mengikuti serangkaian tes.

UAS kemudian menyindir kondisi yang menurutnya menunjukkan bahwa ijazah dan prestasi akademik tidak selalu cukup jika seseorang tidak memiliki latar belakang keluarga atau koneksi politik yang kuat.

Pernyataan tersebut dinilai menyinggung Gibran, yang pencalonannya sebagai wakil presiden pada Pemilu 2024 menjadi sorotan setelah MK mengubah ketentuan batas usia calon presiden dan calon wakil presiden melalui putusan yang dibacakan pada 2023. Putusan itu menjadi kontroversi karena saat itu Ketua MK dijabat Anwar Usman, paman Gibran.

UAS juga menyinggung situasi ketika seseorang harus menghadapi persaingan tanpa dukungan keluarga berpengaruh.

“Saya kemudian pulang ke kampung, membawa dua ijazah. S1 Mesir, S2 Maroko. Tapi ternyata, tapi ternyata di negara itu, ijazah tidak ada apa-apanya kalau kau bukan anak siapa dan pamanmu bukan hakim konstitusi,” kata UAS, dikutip Senin (12/10/2026).

UAS kemudian menceritakan pengalamannya saat mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) untuk posisi dosen. Ia mengaku telah melewati sejumlah tahapan tes, termasuk tes TOEFL dan bahasa Arab.

“Saya diejek-ejek di Saudi ketika jadi TKI, saya enggak marah. Saya diejek-ejek ketika saya enggak berangkat ke Mesir, saya enggak marah. Tapi ketika saya pulang membawa dua ijazah, lalu saya pun pulang ikut tes CPNS jadi dosen, lalu kemudian tes TOEFL, lulus. Tes bahasa Arab, kecil, Pak. Kita empat tahun di Mesir, dua tahun di Maroko,” jelasnya.

Ia melanjutkan, dirinya juga mengikuti tes mengajar. Namun, pada tahap berikutnya, ia mendapat pertanyaan mengenai pengalaman mengajar yang membuatnya merasa terpukul.

“Tapi jangan mentang-mentang lama di Arab, unta lebih lama. Disuruh ngajar lulus, sampai akhirnya tes audiensi berdua. Pertanyaan yang merontokkan jiwa saya, pertanyaannya, ‘Sudah punya pengalaman ngajar?’ Langsung badan saya lemas, aduh,” tuturnya.

UAS mengatakan, kabar kegagalannya menjadi dosen diterima ketika dirinya sedang berada di kawasan Kampung Melayu, Jakarta, dan bergelantungan di dalam metromini.

“Sampai akhirnya di Kampung Melayu, terminal, saya lagi bergelantungan di metromini, handphone saya bunyi. Titititi, SMS. Pas saya lihat, ‘Kau enggak lulus’,” lanjutnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *