News

Republik (Pak) Oga – FAJAR



Oleh: Andi Muhammad Jufri, Praktisi Pembangunan Sosial

PORTALUTAMA.NET, Bagi kita semua, jalanan selalu menyimpan cerita tentang kehidupan. Ada jalan yang mulus dan lebar, ada pula yang berlubang, sempit, berdebu saat kemarau, dan tergenang ketika hujan turun. Di atas jalanan itulah berbagai kendaraan berlalu-lalang: sepeda motor, mobil pribadi, angkutan umum, truk besar, hingga pejalan kaki yang berusaha mencari ruang aman untuk melangkah.

Menikmati perjalanan yang tertib sesungguhnya menjadi kemewahan yang semakin sulit ditemukan. Di kota besar maupun desa, para pengendara sering melaju tergesa-gesa, berbelok tanpa isyarat, menyerobot antrean, atau mengabaikan keselamatan pengguna jalan lainnya.

Kecelakaan lalu lintas pun menjadi pemandangan yang tidak lagi asing. Karena itulah jalanan membutuhkan aturan dan kepatuhan. Ada lampu lalu lintas, marka jalan, rambu-rambu peringatan, batas kecepatan, jalur prioritas, serta berbagai ketentuan yang mengatur siapa harus berjalan, berhenti, mengalah, atau mendahului.

Namun pada akhirnya, kualitas sebuah jalanan tidak ditentukan oleh aspal dan beton semata. Jalanan ditentukan oleh perilaku para penggunanya. Jalan yang baik dapat berubah menjadi kacau ketika aturan diabaikan. Sebaliknya, jalan yang sederhana dapat terasa tertib ketika setiap orang memahami hak dan kewajibannya.

Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas itulah kita sering menemukan sosok yang akrab disebut Pak Oga. Ia bukan polisi lalu lintas. Namanya tidak tercantum dalam struktur resmi pengelolaan transportasi. Namun hampir di setiap persimpangan padat, putaran jalan, atau pintu keluar-masuk kawasan ramai, sosoknya hadir membantu mengurai kemacetan.

Kehadiran Pak Oga sering menimbulkan perasaan yang campur aduk. Ada yang merasa terbantu karena arus kendaraan menjadi lebih lancar. Ada pula yang merasa jengkel ketika setelah membantu, tangannya terulur meminta “secepe” sebagai balas jasa. Namun terlepas dari segala kontroversinya, banyak orang mengakui bahwa Pak Oga sering kali berhasil mengurai kemacetan, terutama di titik-titik yang tidak memiliki lampu lalu lintas atau pengawasan petugas resmi. Ia hadir bukan karena sistem berjalan sempurna, melainkan karena ada ruang kosong yang perlu diisi.
Di sinilah Pak Oga menjadi menarik sebagai sebuah metafora sosial.

Dalam banyak hal, Indonesia dapat dipandang sebagai sebuah Republik (Pak) Oga. Negeri ini dipenuhi beragam latar belakang, kepentingan, tujuan, dan kecepatan yang berbeda-beda, layaknya kendaraan yang bergerak menuju arah masing-masing. Konstitusi dan hukum berfungsi seperti rambu-rambu lalu lintas yang mengatur perjalanan bersama. Pemerintah bertindak sebagai pengelola lalu lintas, sementara rakyat adalah pengguna jalan yang setiap hari merasakan langsung dampak dari aturan yang dibuat.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *