Industri Sawit Dorong Transformasi Ekonomi Berkelanjutan di Indonesia

PORTALUTAMA.NET – Industri perkebunan kelapa sawit memiliki posisi yang strategis untuk mendorong transformasi ekonomi berkelanjutan di Tanah Air. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mencapai Indonesia Emas pada 2045.
Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Bandung Sahari, menerangkan posisi industri kelapa sawit dalam perekonomian Indonesia sebetulnya cukup signifikan. Beberapa produk turunan industri ini digunakan untuk industri makanan hingga energi.
Tidak hanya itu, industri ini juga memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pemenuhan pasokan energi global. Dari pasokan minyak kelapa sawit global yang mencapai 85 juta metric ton (MT), Indonesia berkontribusi sekitar 49 juta MT atau sekitar 58% dari total pasokan minyak kelapa sawit global.
”Hal ini menempatkan Indonesia pada posisi yang signifikan dalam keseimbangan pasokan dan permintaan energi global, mengingat 22% dari total pasokan minyak nabati dunia berasal dari Indonesia. Untuk memenuhi permintaan di masa depan, diperlukan fokus terhadap aspek keberlanjutan maupun produktivitas. Mengingat peran penting Indonesia, keberlanjutan terkait penggunaan atau perluasan lahan dan produktivitas harus menjadi perhatian utama,” kata Bandung, Selasa (6/10/2026).
Dalam proyeksinya, Bandung memperkirakan bahwa seiring dengan pertumbuhan populasi di Indonesia dan dalam skenario produksi minyak kelapa sawit tidak bertumbuh secara signifikan, Indonesia akan mengalami defisit supply sebesar 27 juta MT untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor.
Sejak pemberlakuan moratorium atas ekspansi perkebunan kelapa sawit oleh sektor swasta, GAPKI mencatat pertumbuhan ekspansi lahan telah menurun. Menurutnya, jika area tertanam tidak kunjung bertumbuh, CPO domestik harus memiliki yield sekitar 5 MT/ha per tahun untuk memenuhi kebutuhan.
Meskipun begitu, Bandung menekankan pada pentingnya transformasi ekonomi berkelanjutan dalam pengembangan industri ini. Menurutnya, Indonesia telah menjadi salah satu negara berkembang dengan ekonomi terbesar, yang harus memiliki komitmen atas lingkungan untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan. Hal itu sejalan dengan salah satu pilar pemerintah dalam mendorong cita-cita Indonesia Emas 2045.
”Upaya untuk menurunkan jejak emisi tentu membutuhkan penerapan praktik yang lebih berkelanjutan. Namun, hampir selalu ada konsekuensi berupa peningkatan biaya. Biaya yang lebih tinggi dapat mengurangi daya saing. Bagi perusahaan, hal ini menjadi tantangan tersendiri. Bagi petani kecil, tambahan biaya bahkan dapat menjadi beban yang jauh lebih berat. Di sisi lain, tuntutan global terhadap keberlanjutan terus meningkat dan pada akhirnya harus kita penuhi,” tegasnya.
Source link
