News

Terjebak Perang Iran, Dukungan Trump Anjlok Menjelang Pemilu Paruh Waktu AS



PORTALUTAMA.NET, WASHINGTON DC — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan berada dalam tekanan hebat. Konflik militer dengan Iran yang semula diprediksi bakal berlangsung singkat kini telah memasuki bulan keenam tanpa tanda-tanda mereda.

Kondisi tersebut tidak hanya menguras logistik militer Paman Sam, tetapi juga mulai merusak citra politik Trump di dalam negeri. Dukungan publik terhadap cara sang presiden menangani isu Iran anjlok drastis menjelang Pemilu Paruh Waktu (Midterm Elections) AS.

Laporan mendalam yang dihimpun dari berbagai sumber mengindikasikan bahwa atmosfer di dalam Gedung Putih kini jauh dari kata kondusif. Ketegangan internal meningkat seiring dengan macetnya strategi militer AS di kawasan Timur Tengah.

Jurnalis senior The New York Times, Maggie Haberman, mengungkapkan bahwa Donald Trump berada dalam suasana hati yang sangat frustrasi akibat skenario perang yang melenceng jauh dari kalkulasi awalnya.

“Ini bukan lingkungan kerja yang bahagia, berdasarkan laporan dan penelusuran apa pun yang kami miliki saat ini,” ujar Haberman dalam program Laura Coates Live di CNN, Selasa (1/9/2026).

“Presiden telah berada dalam suasana hati yang cukup frustrasi untuk waktu yang lumayan lama terkait isu Iran. Dan harus diakui, masalah ini sejatinya adalah buah dari keputusannya sendiri,” tambahnya.

Miskalkulasi Strategi dan Resiko Krisis Energi Global

Eskalasi militer ini bermula pada Februari lalu ketika Amerika Serikat melancarkan kampanye pengeboman masif ke wilayah Iran. Gedung Putih awalnya optimistis bahwa serangan udara tersebut bakal memaksa Teheran berlutut dalam hitungan minggu.

Namun, kalkulasi militer AS meleset. Alih-alih menyerah, Iran justru merespons dengan menutup Selat Hormuz—salah satu urat nadi dan rute paling strategis bagi lalu lintas migas dunia.

Meski Trump berulang kali mengklaim di media bahwa militer AS telah mengamankan dan menguasai perairan tersebut, kenyataan di lapangan menunjukkan akses pelayaran internasional masih sangat terbatas dan berisiko tinggi.

Blokade secara de facto di Selat Hormuz ini memicu kepanikan di pasar komoditas global hingga mendorong kenaikan harga minyak mentah secara signifikan. Di saat yang sama, aksi saling balasan serangan rudal dan drone yang berkepanjangan mulai memeras persediaan amunisi strategis militer AS.

Haberman menegaskan, Trump awalnya sangat meyakini konflik ini bakal menjadi operasi militer cepat (swift war).

“Dia percaya, sebagaimana yang saya dan Jonathan Swan tulis dalam Regime Change, bahwa perang ini akan selesai dengan cepat. Namun, realitanya tidak berjalan seperti itu,” jelas Haberman.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *