Survei Poltracking Ungkap hanya Enam Partai Politik yang Lolos Parlemen, PSI Tetap 2,9 Persen

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Elektabilitas partai politik (parpol) menjelang pemilu 2029 menjadi salah satu potret menarik dari hasil survei berbagai lembaga. Mereka yang berada di papan atas masih didominasi partai yang saat ini memiliki kursi di parlemen.
Hal itu tergambar dari hasil survei terbaru yang dilakukan lembaga survei Poltracking Indonesia. Rilis hasil survei yang dilakukan pada Senin (19/10/2026) menunjukkan partai yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto menempati posisi teratas.
Dalam paparannya, Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda Rasyid, menjelaskan bahwa tingkat keterpilihan Partai Gerindra jika pemilu dilakukan saat ini mencapai 22,9 persen.
Perolehan suara tersebut disusul PDI Perjuangan dengan elektabilitas 13,4 persen. Menyusul kemudian Partai Golkar dengan suara 9,1 persen, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di urutan keempat dengan perolehan suara 7,1 persen. Selanjutnya ada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan 5,8 persen, kemudian Partai Demokrat dengan suara 5,4 persen.
Sementara Partai Nasdem hanya memperoleh 3,9 persen suara, disusul Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan 2,9 persen, PAN 2,2 persen, PPP 1,6 persen, dan selebihnya di bawah 1 persen.
Dari gambaran itu, dapat disimpulkan bahwa hanya enam partai politik yang lolos parlemen jika pemilu dilakukan hari ini yakni Partai Gerindra, PDI Perjuangan, Partai Golkar, PKB, PKS, dan Demokrat. Itu jika ambang batas parlemen tetap 4 persen seperti yang berlaku hari ini.
Kendati begitu, Hanta Yudha menjelaskan bahwa Partai Nasdem yang meraih 3,9 persen suara tetap berpotensi besar lolos ke parlemen jika tidak ada perubahan ambang batas palemenen, mengingat masih tinggi pemilih yang tidak menjawab.
“Nah ini, kalau dilihat dari datanya, Partai Nasdem, Partai Golkar, PKS, PKB, Partai Demokrat, PDIP, dan Partai Gerindra berpotensi lolos parlemen kalau tetap 4 persen,” kata Hanta Yudha.
Namun dia mengingatkan bahwa survei tersebut, responden yang tidak tahu dan tidak menjawab juga ada dengan persentasi yang cukup tinggi yakni 24,2 persen.
“Seperempat dari responden masih merahasiakan atau tidak menjawab, artinya pada hari H, perolehan elektabilitas partai pasti tentu di atas ini semua. Ini potret dimana ada variabel tidak tahu, tidak menjawab masih sangat tinggi,” katanya.
Selain itu, pelaksanaan pemilu juga masih sangat lama yakni pada 2029, kendati potret dari hasil survei tersebut sangat kuat menggambarkan keinginan para pemilih. Hanya saja, kondisi tersebut masih sangat dinamis dan bisa berubah.
Source link
