Analisis Prof Henri Subiakto: Di Balik Keakraban Istana, Ada Peta Kekuatan yang Mengancam Prabowo

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Gestur dan kehadiran Presiden ke-7 RI Joko Widodo beserta keluarganya pada peringatan HUT ke-81 RI di Istana Negara memicu sorotan tajam dari pengamat politik.
Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Henri Subiakto, menilai bahwa kebersamaan antara Jokowi, Presiden Prabowo Subianto, dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memancarkan pesan politik yang sangat kuat dan strategis.
Menurutnya, dalam era digital saat ini, penampilan visual serta penataan posisi para aktor politik sering kali menjadi inti utama dari komunikasi politik itu sendiri, bukan sekadar hiasan luar.
Makna Gestur Politik dan Penataan Posisi di Istana
Prof. Henri menggarisbawahi perbedaan signifikan antara kehadiran Jokowi saat Sidang Tahunan MPR RI dengan momentum perayaan kemerdekaan di Istana Negara.
“Saat di parlemen, Jokowi tampak berjalan di belakang tanpa pengawalan ketat atau pendampingan dari pimpinan MPR. Namun, suasana berbalik drastis ketika berada di Istana Negara, di mana Jokowi beserta keluarganya duduk mengapit Presiden Prabowo Subianto dalam suasana yang tampak akrab dan penuh kehangatan,” beber Henri Subiakto dikutip fajar.co.id dari tayangan Youtube Forum Keadilan TV, Kamis (20/8/2026).
Di Istana, lanjutnya, kehadiran dinasti Jokowi, dinilai sangat lengkap, mulai dari Iriana Jokowi, Gibran Rakabuming Raka beserta istri, hingga para cucu. Hal ini menandakan bahwa peran serta pengaruh elite lama masih sangat diperhitungkan di lingkaran dalam kekuasaan.
Penataan duduk Prabowo di antara Jokowi dan Gibran memberi impresi publik bahwa Prabowo masih membutuhkan dukungan politik keluarga Jokowi untuk menjaga kontinuitas pemerintahan. “Di sisi lain, hal ini juga memperlihatkan bagaimana dinasti Jokowi seolah-olah sudah siap dan berada di posisi terdepan jika terjadi suksesi di masa mendatang,” ujarnya, mengingatkan.
Bahaya Terselubung bagi Kepemimpinan Prabowo
Secara mendalam, Prof. Henri menganalisis adanya potensi bahaya serta benturan kepentingan yang tersembunyi di balik keakraban tersebut.
Sebagai presiden aktif, kata Henri Subiakto, Prabowo tentu memiliki kepentingan politik untuk mempertahankan kekuasaannya secara penuh dan menjaga independensi kepemimpinannya.
Di sisi lain, keberadaan Gibran sebagai Wakil Presiden secara konstitusional menempatkannya sebagai orang pertama yang akan menggantikan posisi presiden jika terjadi hal-hal di luar dugaan. Kondisi ini dinilai menciptakan dinamika yang rawan bagi stabilitas posisi Prabowo.
Di banyak negara, transisi kekuasaan biasanya diikuti oleh proses marginalisasi atau pengurangan pengaruh penguasa lama yang disebutnya de-Jokowisasi.
Source link
