Imbas Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz, Pasar Minyak Panas Lagi, Brent Tembus USD 86, WTI USD 80,5

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (15/7/2026). Pemicunya, Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan meluncurkan serangan lanjutan ke Iran, beberapa jam setelah AS memberlakukan blokade di Selat Hormuz.
Dilansir Investing, kontrak berjangka Brent naik 0,89 poin atau 1,04% ke USD 86,31 per barel. Sementara WTI AS naik 1,16 poin atau 1,46% ke USD 80,51 per barel.
Melansir Bloomberg, Trump menegaskan serangan terhadap Iran akan terus berlanjut. Ia bahkan mengancam akan membom pembangkit listrik dan jembatan di Iran pekan depan jika Teheran menolak kembali ke meja perundingan.
“Untuk saat ini saya tidak ingin berunding. Saya tegaskan, kami tidak bernegosiasi. Tiga hari yang lalu, kami memiliki kesepakatan,” kata Trump dalam wawancara dengan _Fox News, Selasa (14/7/2026).
Pada 13 Juli 2026, Trump juga menyatakan AS akan menjadi “penjaga” Selat Hormuz dan kembali memberlakukan blokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
Blokade Mulai Berlaku, Kapal Tak Bisa Lewat
Blokade laut resmi berlaku mulai pukul 16.00 waktu Washington. Itu terjadi sejam setelah militer AS meluncurkan gelombang serangan udara baru ke target-target Iran.
Tujuannya untuk melumpuhkan kemampuan Iran menyerang kapal dagang komersial di selat tersebut.
Akibatnya, lalu lintas kapal nyaris lumpuh total.
“Masih banyak ketidakpastian. Apakah kita sedang berada dalam kondisi perang? Apakah AS akan mampu mengendalikan Selat Hormuz dan memungkinkan kapal-kapal selain milik Iran melintas? Hingga hari ini, tidak ada kapal yang bisa melewati jalur itu,” ujar Spesialis energi TP ICAP Group Plc, Scott Shelton.
Produsen Teluk Cari Jalan, Stok AS Turun
Selama sebulan terakhir, negara produsen di Teluk Persia sempat meningkatkan ekspor setelah ada gencatan senjata sementara.
Uni Emirat Arab jadi yang paling agresif. UEA memanfaatkan kapal tanker pengumpan yang berlayar tanpa menyalakan transponder agar tak terdeteksi.
Di sisi lain, American Petroleum Institute (API) melaporkan stok minyak mentah AS turun 600.000 barel pekan lalu. Jika dikonfirmasi data resmi pemerintah, ini jadi penurunan ke-11 kalinya dalam 12 pekan terakhir.
Ketegangan ini bermula sejak 8 Juli 2026, saat AS melancarkan serangan ke Iran sebagai balasan atas gangguan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz. Iran membalas dengan menyerang pangkalan AS di Timur Tengah, dan pada Minggu lalu mengumumkan penutupan Selat Hormuz. (bs-sam/fajar)
Source link
