Gagal 4 Kali, Anak Petani yang Jadi Satu-satunya Sarjana di Keluarganya Berbagi Kisah Sukses Tembus LPDP

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Namanya Umi Saputri. Dalam pergaulan sehari-hari, teman-teman memanggilnya Umisa. Ia adalah seorang difabel tuli asal Lampung Barat.
Di balik senyap yang panjang, Umisa memilih untuk tidak berhenti mengetuk pintu yang sama: beasiswa LPDP. Empat kali ia gagal. Pada percobaan kelima, pintu itu akhirnya terbuka.
Bukan hanya lolos, Umisa melampaui jauh passing grade yang ditetapkan. Skor amannya 990, sementara nilai tes substansinya menembus sekitar 1.298.
Umisa bukan datang dari keluarga berada. Ia adalah anak seorang petani di Lampung Barat. Lulusan S1 Tadris Biologi Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Metro Lampung tahun 2023 itu juga menjadi satu-satunya sarjana di keluarganya.
Dalam diam yang kerap disalahpahami orang lain, ia tumbuh dengan satu bekal yang tak kasatmata, keinginan untuk terus melangkah.
Kehilangan pendengaran yang ia alami bukan terjadi tiba-tiba. Sejak sekolah dasar, Umisa hidup dengan hambatan pendengaran akibat otitis media.
Berdasarkan keterangan dokter THT, penyakit itu kemungkinan dipicu jamur atau bakteri yang menginfeksi telinga berulang-ulang. Kondisi tersebut membuat gendang telinga kanan dan kiri robek sehingga kemampuan mendengarnya menurun.
Kampus Jadi Ruang Menemukan Diri
Di tengah keterbatasan itu, pendidikan menjadi ruang yang membukakan banyak hal. Umisa menyebut pendidikan bagi difabel sebagai kesempatan untuk menemukan potensi diri.
Bagi dirinya, ruang kampus bukan sekadar tempat kuliah, melainkan tempat belajar mengenali kemampuan yang selama ini tersembunyi.
Ia menyalurkan banyak hal lewat tulisan. Saat kuliah, kemampuan menulisnya berkembang dalam berbagai bentuk, baik karya ilmiah maupun nonilmiah.
Dari sana, ia kerap mewakili kampus dalam berbagai perlombaan di sejumlah daerah, mulai dari Jambi, Jakarta, Padang, Riau, hingga Lombok.
Sejumlah capaian itu membawanya pada pengalaman lain: menjadi narasumber kepenulisan untuk mahasiswa di kampusnya.
Bagi Umisa, LPDP bukan semata beasiswa. Ia melihatnya sebagai jalur yang memang memberi ruang bagi difabel. Dari situ lahir keinginannya untuk memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Sebagai anak petani, ia juga membawa harapan untuk ikut berkontribusi bagi pertanian Indonesia.
Pelajaran dari Empat Kegagalan
Empat kegagalan tidak membuat Umisa mundur. Sebaliknya, ia justru dipaksa menatap dirinya sendiri lebih jernih. Pelajaran pahit yang paling melekat baginya bukan sekadar soal hasil seleksi, melainkan soal pengenalan diri.
Ia mengaku sempat belum memahami siapa dirinya, belum mampu membaca apa kekuatan dan kekurangannya sendiri.
Source link
