News

Drone Emprit Deteksi Upaya Penumpang Gelap Picu Kerusuhan, tapi Gagal Pengaruhi Arus Utama



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Aksi unjuk rasa besar-besaran pada 27 Agustus 2026, hari ini, membuat jagat media sosial Indonesia dipenuhi perbincangan.

Lembaga pemantau media sosial Drone Emprit mencatat dua fenomena sekaligus: kemarahan publik terhadap korupsi yang mencapai puncaknya, dan munculnya upaya “penumpang gelap” yang mencoba menunggangi gerakan dengan narasi provokatif.

Lead Analyst Drone Emprit, Rizal Nova Mujahid, mengungkapkan volume percakapan terkait aksi 27 Agustus mencapai angka fantastis. Total keterlibatan atau engagement di berbagai platform digital tercatat lebih dari 430 juta interaksi.

Angka itu melampaui jumlah penduduk Indonesia. Ini mengindikasikan bahwa hampir setiap pemilik gawai di tanah air terpapar isu unjuk rasa tersebut.

“Ini menunjukkan bahwa isu ini sudah menjadi perhatian nasional. Hampir tidak ada ruang digital yang tidak membahasnya,” ujar Rizal dalam perbincangan di podcast Madilog Forum Keadilan TV, Kamis (27/8/2026).

Provokasi Menyasar Pelajar STM dan Narasi Kerusuhan

Dalam hasil analisis Drone Emprit, terdeteksi penyebaran konten provokatif secara masif di platform TikTok dan Instagram. Sasaran utamanya adalah kelompok remaja, khususnya siswa Sekolah Teknik Menengah (STM).

Konten-konten itu tidak mengangkat substansi tuntutan, melainkan memainkan emosi ketakutan. Beberapa narasi yang disebar di antaranya klaim bahwa polisi pasti akan melakukan kekerasan, serta ajakan agar terjadi kerusuhan di lapangan.

“Banyak sekali undangan-undangan di TikTok dan Instagram yang menyasar remaja, anak STM. Narasi yang dimainkan bukan substansi, melainkan emosi ketakutan, seperti klaim polisi pasti akan berbuat kekerasan atau dorongan agar terjadi kerusuhan,” kata Rizal.

Lebih lanjut, Drone Emprit mengidentifikasi adanya perilaku terkoordinasi yang tidak autentik atau inauthentic coordinated behavior. Pola ini terlihat dari akun-akun organik buatan manusia yang bergerak secara terencana untuk merawat narasi kerusuhan sejak Juli 2026.

Namun menurut Rizal, upaya penyusupan dan provokasi tersebut berada di pinggiran jejaring percakapan publik berdasarkan analisis Social Network Analysis. Narasi provokatif itu gagal memengaruhi arus utama pembicaraan di media sosial.

“Publik sekarang sudah lebih bijak. Ada pembelajaran dari aksi-aksi massa sebelumnya. Masyarakat tidak mudah termakan isu miring dan bisa membedakan mana tuntutan substansi dan mana ajakan anarkis,” jelasnya.

Tuntutan Jelas: Sahkan RUU Perampasan Aset

Berbeda dengan aksi spekulatif yang kerap menyasar Istana Negara atau figur kepemimpinan nasional, Drone Emprit mencatat bahwa kemarahan publik dalam gerakan 27 Agustus ini memiliki arah dan sasaran yang sangat jelas.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *