News

Lima Nyawa dan Sebuah Pertanyaan Besar: Saatnya Mengevaluasi Pelatihan Manajer Koperasi



Oleh: Muliadi Saleh,
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Lima calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih meninggal dunia (27/6/2026),  saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil). Peristiwa ini bukan lagi sekadar insiden pelatihan. Ketika korban telah mencapai lima orang, persoalannya tidak boleh berhenti pada penjelasan teknis atau kondisi kesehatan individu. Yang patut dipertanyakan adalah fondasi kebijakan itu sendiri: apa dasar ilmiah desain pelatihan tersebut?

Kementerian Pertahanan RI telah menjelaskan bahwa kelima peserta meninggal akibat penyebab medis yang berbeda, mulai dari cardiac arrest, heat stroke disertai henti jantung, komplikasi tuberkulosis (TB), hingga gangguan pernapasan. Kemhan juga menyatakan seluruh peserta telah menjalani pemeriksaan kesehatan, meliputi tes darah, urine, rontgen, EKG, hingga pemeriksaan psikologis, serta memperoleh penanganan medis sesuai prosedur.

Penjelasan resmi tersebut patut dihargai. Namun justru karena proses seleksi kesehatan dinyatakan telah dilakukan secara ketat, pertanyaan berikutnya menjadi semakin penting. Jika sistem seleksi telah memenuhi standar, tetapi korban jiwa tetap berjatuhan, maka evaluasi tidak cukup diarahkan kepada peserta, melainkan harus menyentuh desain pelatihan itu sendiri.

Dalam ilmu manajemen sumber daya manusia, setiap pelatihan disusun berdasarkan kompetensi jabatan (competency-based training). Kurikulum harus relevan dengan pekerjaan yang akan dijalankan. Seorang manajer koperasi dituntut menguasai tata kelola organisasi, literasi keuangan, kepemimpinan partisipatif, manajemen risiko, komunikasi, inovasi bisnis, dan kemampuan membangun kepercayaan anggota. Sulit menemukan landasan akademik yang menyatakan bahwa kompetensi tersebut dibentuk melalui latihan dasar kemiliteran.

Jika tujuan negara adalah membangun disiplin, integritas, nasionalisme, dan kerja sama tim, dunia pendidikan modern telah lama menawarkan pendekatan yang lebih relevan, seperti experiential learning, coaching, simulasi bisnis, problem solving, case study, team building, dan pembelajaran berbasis proyek. Pendekatan-pendekatan tersebut membentuk karakter tanpa mengabaikan keselamatan peserta.

Karena itu, yang dipersoalkan bukan institusi militernya. Militer memiliki tugas konstitusional yang mulia dalam menjaga kedaulatan negara. Yang harus dievaluasi adalah apakah pendekatan kemiliteran memang tepat diterapkan untuk membentuk calon manajer koperasi, sebuah profesi sipil yang membutuhkan kompetensi berbeda.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *