Drama Iran vs Mesir, Netizen Indonesia Menggelar Kuliah Kilat Hukum Offside dari Gol yang Dianulir

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Drama di atas lapangan hijau selalu punya cara untuk berpindah ke layar kaca dan lini masa. Kali ini, laga sengit antara Iran dan Mesir menyisakan satu momen krusial yang membuat jutaan pasang mata mengernyitkan dahi, sebuah gol dramatis Iran di akhir babak kedua dianulir oleh wasit.
Pemicunya adalah bendera offside. Keputusan ini langsung memantik kebingungan massal di media sosial. Bagaimana bisa dinyatakan offside, padahal jika dilihat sekilas, posisi penyerang Iran masih berada di depan bek terakhir Mesir? Kuncinya ada pada sang penjaga gawang Mesir yang sudah maju jauh meninggalkan sarangnya.
Melihat perdebatan yang mulai memanas, akun X populer @SiaranBolaLive mencoba menengahi dengan mengunggah potongan video momen tersebut. “Masih rame tentang offside IRAN yang berujung pada dianulirnya Gol Iran di Akhir babak kedua vs Egypt. Ada yang bisa menjelaskan dengan bahasa mudah dipahami?” tulis akun tersebut, memancing interaksi, dikutip fajar.co.id, pada Sabtu (27/6/2026).
Siapa sangka, unggahan ini justru berubah menjadi ruang kelas dadakan. Alih-alih dipenuhi hujatan, netizen pecinta sepak bola Indonesia justru kompak memberikan edukasi aturan Laws of the Game dari IFAB dengan cara yang sangat renyah.
Membongkar Mitos “Kiper adalah Garis Terakhir”
Kekeliruan paling umum dalam sepak bola awam adalah menganggap penjaga gawang sebagai patokan absolut offside. Lewat diskusi ini, netizen meluruskan kekeliruan tersebut.
Akun @ap_zulfikar mencoba mengurai benang kusut itu dari dasarnya.
“Dalam aturan offside, acuannya bukan harus kiper, melainkan dua pemain lawan yang paling dekat dengan garis gawang. Jika kiper keluar dari posisinya, maka dua pemain terakhir bisa saja pemain bertahan biasa,” tulisnya.
Analisis visual yang lebih detail ditambahkan oleh akun @IndosFC. Ia menjelaskan bahwa petaka bagi Iran terjadi justru karena kiper Mesir bergerak terlalu maju, melewati garis sejajar rekan setimnya sendiri.
Karena sang kiper sudah “meninggalkan” beknya di belakang, maka status hierarki pemain pun berubah. Si kiper kini dihitung sebagai orang kedua terakhir, yang menjadi batas ditariknya garis offside.
Dari “Pemain Bawang” hingga “Bahasa Bayi”
Dari sekian banyak penjelasan ilmiah, ada satu ulasan yang paling mencuri perhatian karena menggunakan analogi jenaka. Akun @lahjamalion08 mencoba menyederhanakan hukum fisika sepak bola ini menjadi apa yang ia sebut sebagai “bahasa bayi”.
Menurutnya, saat kiper maju terlalu jauh, posisi dua bek Mesir yang tertinggal di area penalti otomatis mengalami “rebranding” status:
Bek pertama (yang berdiri di dekat tiang gawang): Dianggap menggantikan peran kiper, atau kasarnya menjadi “pemain bawang” yang posisinya tidak dihitung untuk garis offside.
Source link
