News

Nahdliyin Sesalkan Pertengkaran Berkepanjangan di PBNU, Muktamar ke-35 Jadi Momentum Mengakhiri Konflik Elite Organisasi



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menjadi perhatian menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35. Sejumlah warga Nahdliyin mengaku prihatin melihat konflik antar elite organisasi yang terus berlangsung dan dinilai berpotensi mengganggu soliditas jam’iyah.

HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Warga NU sekaligus Kiai Kampung, menyebut pertengkaran yang terjadi di tubuh PBNU telah membuat banyak jamaah merasa kecewa. Menurutnya, konflik tersebut bahkan sudah sampai pada kondisi yang oleh sebagian warga NU disebut sebagai “ambyar” hingga “mudyar”.

“Semua jamaah Nahdlatul Ulama menyesalkan pertengkaran yang terus berlangsung di tubuh PBNU. Pertengkaran itu bahkan telah sampai pada titik yang oleh banyak warga NU disebut sebagai ambyar sampai “mudyar”—berantakan dan sulit dipersatukan kembali,” kata Khalilur dalam catatannya.

Ia menyebut terdapat sejumlah tokoh utama yang selama beberapa tahun terakhir berada dalam pusaran dinamika tersebut. Di antaranya kelompok yang disebut “Kubu Sultan” dan “Kubu Kramat”.

“Kubu Sultan” dikaitkan dengan Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), serta Bendahara Umum PBNU H Gudfan Arif Ghofur. Sementara “Kubu Kramat” disebut terdiri dari Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori, dan Wakil Ketua Umum PBNU KH Amin Said Husni.

Menurut Khalilur, kondisi tersebut menjadi ironi karena para tokoh tersebut memiliki posisi strategis yang seharusnya saling menguatkan dalam menjalankan roda organisasi.

“Katib Aam semestinya berjalan selaras dengan Rais Aam. Ketua Umum idealnya bekerja harmonis dengan Sekjen. Demikian pula Wakil Ketua Umum dan Bendahara Umum,” ujarnya.

Namun, ia menilai realitas yang terjadi justru memperlihatkan konflik berkepanjangan yang beberapa kali muncul ke ruang publik. Padahal, sebagian besar warga NU berharap persoalan internal dapat segera diselesaikan, terutama setelah adanya Islah Lirboyo yang sempat memberi harapan berakhirnya ketegangan.

Menurut Khalilur, banyak pihak kemudian melihat persoalan hanya sebatas perseteruan antara Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf. Namun, ia mencoba melihat lebih jauh melalui penelusuran sejarah perjalanan konflik.

“Sebagai warga NU dan kiai kampung, saya mencoba melakukan tabayun dengan menelusuri jejak sejarah perjalanan konflik ini,” katanya.
Dari penelusuran tersebut, ia menyampaikan pandangan bahwa nama KH Miftahul Akhyar selalu muncul dalam sejumlah fase dinamika internal NU.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *