News

Parlemen Bayangan Bongkar Ironi Kopdes Merah Putih, Barang Hampir Kedaluwarsa, Pengurus Setahun Tak Digaji



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Kemegahan bangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih ternyata belum tentu sejalan dengan kesiapan operasionalnya.

Di balik bangunan yang dilengkapi rak pajangan, komputer kasir, dan berbagai fasilitas modern, muncul persoalan mengenai perputaran barang, kesejahteraan pekerja, hingga kejelasan waktu pembukaan gerai.

Penggagas Parlemen Bayangan Indonesia Pasti, Heru Subagia, blak-blakan bicara kondisi tersebut sebagai ironi megaproyek Kopdes.

Menurut dia, infrastruktur yang dibangun dengan anggaran besar justru berisiko kehilangan manfaat apabila tidak diikuti pengelolaan usaha yang profesional dan transparan.

Bangunan Megah, tetapi Aktivitas Usaha Dipertanyakan

Heru menggambarkan, secara fisik sejumlah gerai Kopdes tampak mentereng, bahkan dinilainya melampaui standar jaringan ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret.

Namun, penampilan tersebut tidak serta-merta menjamin aktivitas bisnis berjalan sebagaimana mestinya.

Heru menyebut, tampilan fisik Kopdes dari luar memang terlihat menjanjikan. Papan nama terpasang, rak pajangan berdiri kokoh, komputer kasir tersedia, dan barang dagangan telah disusun di dalam ruangan.

“Saya datang dan langsung melihat Papan nama megah terpasang, rak-rak pajangan berdiri kokoh, komputer kasir yang canggih siap memindai, dan stok barang dagangan telah berjejer rapi di dalam ruangan ber-AC,” ujar Heru kepada fajar.co.id, Minggu (18/10/2026).

Namun, menurut dia, keadaan berubah ketika melihat kondisi operasional di lapangan.

“Dari luar, penampakan fisik Koperasi Desa (Kopdes) modern ini tampak luar biasa, bahkan secara infrastruktur diakui jauh lebih mentereng dan melampaui standar jaringan ritel raksasa seperti Alfamart maupun Indomaret,” tukasnya.

Heru menyayangkan apabila fasilitas yang telah dibangun dengan biaya besar justru belum berfungsi optimal. Dia menggambarkan sejumlah gerai sebagai bangunan yang belum menunjukkan aktivitas usaha sebagaimana mestinya.

“Namun, begitu melangkah ke dalam, kemegahan itu langsung runtuh berganti keprihatinan yang mendalam,” ucap dia.

Dia bahkan menyebut ritel desa yang digadang-gadang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat tersebut seperti monumen yang belum beroperasi secara maksimal.

“Ritel desa yang digadang-gadang menjadi pilar kekuatan ekonomi masyarakat ini ternyata hanyalah sebuah monumen mati suri yang dibiarkan mangkrak,” imbuhnya.

Persoalan berikutnya ada pada kondisi stok barang. Berdasarkan kesaksian pengurus setempat yang diceritakan Heru, barang dagangan yang telah dipajang disebut mengendap lebih dari satu bulan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *