News

Henri Subiakto Paparkan Poin Penting yang Buat Kiai Miftahul Ahyar Layak Pimpin Rais Aam PBNU



PORTALUTAMA.NET,JAKARTA — Guru Besar Ilmu Komunikasi di Universitas Airlangga dan pakar komunikasi politik, Henri Subiakto bicara soal Kiai Miftahul Ahyar.

Lewat cuitan di akun media sosial X pribadinya, Henri menyorot soal terpilihanya sosok Kiai Miftahul Ahyar sebagai Rais Aam PBNU.

Menurutnya sosok Rois Aam PBNU sebelumnya banyak mendapatkan kritikan hingga kecaman soal cara kepemimpinannya.

Hanya saja, sosok Kiai Miftahul Ahyar merupakan Kiai sepuh dengan rekam jejak mumpuni dan panjang dan memang layak jadi pimpinan sebagai pimpinan para Kiai.

“Kiai Miftahul Ahyar terpilih kembali sebagai Rais Aam PBNU masa khidmat 2026-2031. Walau Beliau banyak dikritik bahkan dikecam terkait kepemimpinannya di periode sebelumnya,” tulis Henri Subiakto dikutip Senin (31/8).

“Namun beliau termasuk Kiai sepuh yang memiliki rekam jejak yang panjang, layak dan mumpuni sebagai pimpinan para Kiai,” sambungnya.

Dalam pemaparannya, Henri juga mengungkap lima poin yang membuat sosok Kiai Miftahul Ahyar memang layak Rais Aam Ormas Islam terbesar dunia.

“Ini 5 alasan mengapa Kiai Miftahul Ahyar dipilih dan layak sebagai Rais Aam Ormas Islam terbesar dunia,” jelasnya.

“1. Memiliki Rekam jejak panjang dan berjenjang di NU. Berpengalaman organisasi yang matang dari tingkat bawah hingga puncak:

  • Rais Syuriyah PCNU Surabaya (2000–2005)
  • Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur (dua periode: 2007–2013 dan 2013–2018)
  • Wakil Rais Aam PBNU (2015–2020)
  • Penjabat (Pj) Rais Aam PBNU (2018–2020, menggantikan KH Ma’ruf Amin)
  • Rais Aam PBNU (2021–2026). Beliau dianggap paham betul mekanisme, AD/ART, dan dinamika jam’iyah.
  1. Kedalaman ilmu agama (Aliman dan Faqihan). Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya (yang ia rintis dari nol), ia memiliki sanad keilmuan kuat. Menimba ilmu di pesantren ternama seperti Bahrul Ulum Tambakberas (Jombang), Sidogiri (Pasuruan), Al-Islah Lasem (Rembang), dan majelis ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki. Dikenal ahli fikih yang mampu menerapkan fiqh al-waqi’ (fikih kontekstual) dalam persoalan keumatan dan organisasi.
  2. Sifat zuhud dan tawadhu. Meski menduduki jabatan tertinggi di NU (dan pernah Ketua Umum MUI 2020–2022), ia tetap hidup sederhana, bersahaja, dan rendah hati. Sering melayani tamu secara langsung (menyuguhkan minuman/makanan sendiri) tanpa protokoler berlebihan. Sifat ini menjadi keteladanan dan membuatnya mudah diterima lintas kalangan.
  3. Disiplin, tegas, dan paham organisasi. Dikenal tegas menegakkan aturan organisasi, menekankan bahwa keputusan PBNU harus melalui mekanisme kelembagaan yang sah (bukan individual). Kombinasi sikap sufistik dengan kedisiplinan tinggi ini dianggap penting untuk menjaga marwah dan stabilitas jam’iyah.
  4. Kharisma, restu kiai sepuh, dan kemampuan merangkul.
    Ia memiliki karisma di kalangan warga NU dan mendapat restu dari para masyayikh sepuh, termasuk almarhum KH Maimoen Zubair (Mbah Moen). AHWA secara khusus meminta agar ia merangkul seluruh potensi dan kekuatan yang ada di NU agar bersama-sama merawat organisasi. Gaya dakwahnya yang sejuk, dialogis, dan persuasif,” lanjutnya.

Satu yang paling penting menurut Henri adalah kobimnasi kedalaman ilmu, pengalaman, keteladanan sampai kemampuan memimpin dan jaga persatuan menjadikan sebagai sosok figur yang terpandang.

“Secara keseluruhan, kombinasi kedalaman ilmu, pengalaman organisasi yang panjang, keteladanan pribadi, serta kemampuan menjaga persatuan menjadikannya figur yang dipandang paling layak oleh para kiai sepuh AHWA untuk kembali memimpin jajaran Syuriyah PBNU. Disamping tentu ada pertimbangan politik dan kepentingan yang lebih besar,” terangnya.

“Selamat Bertugas pak Kiai,” pungkasnya. (Erfyansyah/fajar)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *