News

Dari Kursi Roda, Aku Menyaksikan Lautan Cinta Untukmu, Dinda Sudi!



Mengenang Kepergian Sudirman Nasir, MWH,. Ph.D

Penulis: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Tangis Nana pecah di ujung telepon. Sejenak tak ada kata. Hanya suara tangis yang membuat dada saya mulai bergetar. Dengan nada terbata-bata, di antara isak yang semakin sulit ditahan, akhirnya terdengar kalimat yang tak pernah ingin saya dengar: “Kak Mul, Sudi sudah tidak ada…”

Beberapa menit sebelumnya, Nana—istri Sudirman Nasir—mengirim pesan melalui WhatsApp.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kak Mul, kondisi Sudi drop, di ICU. Mohon doanya yang terbaik untuk Sudi, Kak.”

Saya belum sempat membuka pesan itu. Saat itu saya sedang fokus menjalani terapi di rumah. Baru saja keluar dari rumah sakit setelah mengalami stroke ringan, dan langkah kaki saya pun belum kembali normal. Namun, ada sesuatu yang membuat saya segera ingin memastikan kabar itu. Saya menelepon Nana.

Dan kemudian, kabar itu datang.

Sudi telah pergi.

Saya terdiam. Ada kehilangan yang kadang tidak segera menemukan bentuknya dalam kata-kata. Air mata datang tanpa diminta. Bukan hanya karena seorang sahabat telah berpulang, tetapi karena begitu banyak kenangan tiba-tiba berdesakan di ruang ingatan.

Beberapa waktu sebelumnya, saya sempat menjenguk Sudi di rumah sakit. Kondisinya memang terlihat lemah. Lama saya memerhatikannya. Saya mendekat, lalu membisikkan kata-kata yang saat itu masih saya percaya sepenuh hati.

“Semangat, Dinda. Insya Allah sembuh.”

Ia mengangguk pelan. Matanya menatap saya.
Kini, tatapan itu kembali hadir dalam ingatan saya. Seolah ada perjumpaan yang ternyata menjadi salah satu perjumpaan terakhir.

Saya mengenal Sudirman Nasir sejak di Pesantren IMMIM Makassar. Saat itu, Sudi masih duduk di bangku SMP. Sebagai senior, saya pernah menjadi salah seorang pembinanya di pesantren. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke SMANSA Makassar, lalu menempuh perjalanan akademiknya di Universitas Hasanuddin hingga akhirnya melanjutkan studi ke Australia.

Perjalanan hidup membawa kami ke banyak arah. Kami tidak selalu intens berinteraksi. Namun, Allah ternyata kembali mempertemukan kami dengan cara yang sederhana sekaligus indah.
Sudi tinggal di Perumahan Bukit Baruga. Kami bertetangga. Rumahnya hanya berjarak beberapa rumah dari rumah saya.

Setiap kali Sudi lewat di  depan rumah, ia selalu menyapa. Tidak jarang ia singgah, dan kami pun berbincang di depan rumah. Percakapan sederhana itu sering berkembang menjadi diskusi panjang: tentang kesehatan, lingkungan, masyarakat, masa depan generasi muda, hingga berbagai persoalan yang menjadi kegelisahan kami bersama.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *