News

Pangan dan Pujian Presiden: Ini Wilayah Paling Sensitif dalam Ingatan Ideologis Prabowo



Penulis : Muliadi Saleh, Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar angka ketika Presiden Prabowo Subianto berbicara tentang pangan. Dalam pidato kenegaraan dan penyampaian Nota Keuangan serta RAPBN 2027 di hadapan Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD, Jumat, 14 Agustus 2026, pangan kembali ditempatkan sebagai salah satu bukti kemampuan bangsa berdiri di atas kakinya sendiri. Pujian Presiden kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahkan disampaikan dengan sangat royal, seolah ingin menegaskan bahwa keberhasilan pangan adalah salah satu etalase utama pemerintahan yang sedang dipimpinnya.

Prabowo menyatakan bahwa dalam satu tahun terakhir Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan: beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.

Pernyataan itu menarik karena sebelumnya Presiden menargetkan swasembada pangan dalam empat tahun sejak awal pemerintahannya, tetapi target tersebut diklaim tercapai jauh lebih cepat.
Dalam pidato yang sama, Prabowo masih menyebut bawang putih, kedelai, daging sapi dan daging kerbau sebagai pekerjaan yang harus terus dikejar.

Di sinilah pangan menjadi wilayah paling sensitif dalam ingatan ideologis Prabowo. Ia berkali-kali menghubungkan kemampuan memberi makan rakyat dengan makna kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Bahkan pada Januari 2026, ketika mengumumkan swasembada pangan 2025, Presiden mengingatkan bahwa bangsa tidak benar-benar merdeka jika kebutuhan pangannya masih bergantung kepada bangsa lain.

Maka, pujian kepada Andi Amran Sulaiman sesungguhnya tidak berhenti pada pribadi seorang menteri. Ketika Prabowo menyebut Andi Amran Sulaiman beserta seluruh jajaran Kementerian Pertanian sebagai “inti” tim swasembada pangan, yang sedang diberikan penghargaan adalah sebuah kerja kolektif antara petani, penyuluh, pemerintah daerah, TNI-Polri, BUMN pangan, perguruan tinggi, dan seluruh ekosistem pertanian. Pangan menjadi proyek negara yang tidak mungkin dikerjakan oleh satu kementerian saja.

Ada pula angka yang membuat narasi tersebut semakin kuat. Pemerintah melaporkan cadangan beras telah menembus lebih dari 5 juta ton, sementara Kementerian Pertanian menyebut NTP mencapai 127,73 dan pertumbuhan PDB sektor pertanian mencapai 5,74 persen, berdasarkan data 2026 yang disampaikan pemerintah.
Angka-angka itu tentu harus terus diuji dengan data statistik resmi secara berkala, tetapi ia menunjukkan bahwa pemerintah sedang berusaha membangun fondasi produksi sekaligus kesejahteraan petani.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *