News

Pencatuman Nama Presiden Prabowo di Pegajuan Nobel Perdamaian 2026 Kabarnya Tidak Disetujui, Berly Martawardaya: Ini Masalah Besar



PORTALUTAMA.NET,JAKARTA — Dosen Ilmu Ekonomi sekaligus Ekonom, Berly Martawardaya ikut mengomentari terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikaitkan dengan pengajuan Nobel Perdamaian 2026.

Lewat unggahan di akun media sosial X pribadinya, Berly tegas menyoroti soal pencantutan nama dalam sebuah karya ilmiah.

Yang dimana menurutnya, ada nama seseorang sebagai penulis dalam karya itu bisa saja menjadi masalah yang sangat besar.

“Di dunia akademis pencatutan nama seseorang sebagai penulis suatu karya ilmiah adalah masalah besar,” tulisnya dikutip Rabu (5/8).

“Apalagi nama presiden yang sedang menjabat,” sebutnya.

Karena itu, hadirnya nama Presiden Prabowo Subianto dalam pengajuan Nobel Perdamaian 2026 memang jadi suatu masalah.

Mengingat dalam pengakuan tidak ada persetujuan sama sekali nama Presiden Prabowo Subianto dihadirkan dalam karya tersebut.

Berly pun berharap agar pihak-pihak terkait seperti Mensesneg, KSP hingga Bakom segera bersuara soal isu yang lagi hangat ini

“Mensesneg, KSP atau Bakom perlu segera respon apakah ada persetujuan (consent) lisan/tulisan untuk nama Presiden dicantumkan sebagai penulis (puluhan) artikel yang baru ditemukan netizen,” ujarnya.

“Kalau tidak pernah ada persetujuan, maka perlu kirim surat ke SSRN untuk cabut nama Presiden sebagai penulis,” sebutnya.

“Kalau persetujuan pernah diberikan, maka perlu dijelaskan alasan di balik langkah yang tidak umum ini,” terangnya.

Sebelumnya, sebuah paper setebal 69 halaman berjudul Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia’s Economic Growth menjadi perbincangan di media sosial.

Paper tersebut diunggah ke SSRN pada 31 Maret 2026 dan mencantumkan nama Presiden Prabowo Subianto sebagai penulis pertama bersama sembilan penulis lainnya.

Keberadaan paper itu pertama kali ramai setelah diunggah akun X @TxtdariiUGM.

“Nemu paper salah satu authornya @prabowo, papernya sebagai ajuan Program MBG untuk diajukan dalam Nobel Perdamaian 2026,” tulis akun tersebut.

Unggahan ini menyoroti terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penyusunan paper, termasuk adanya desain yang diduga dibuat menggunakan AI dan sisa prompt yang disebut belum dihapus.

Akun tersebut bahkan mengklaim hasil pemeriksaan menggunakan AI detector menunjukkan tingkat deteksi hingga 93 persen.

Paper itu mencantumkan sepuluh penulis, yakni Prabowo Subianto (Presiden Republik Indonesia), Prof. Dr. Dian Damayanti (European Alliance for Innovation dan Universitas Borobudur Jakarta), Ashar Sunarso (Institut Pemerintahan Dalam Negeri), Norhidayah Azman (Management and Science University), Iwan (Universitas Negeri Jakarta), Prof. Dr. Ir. Gimbal Doloksaribu (Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta), Prof. Dr. Cicih Ratnasih (Universitas Borobudur Jakarta), Mansuri (Universitas Borobudur Jakarta), dan Dr. Sugiyanto Saleh (Universitas Borobudur Jakarta).



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *