Arif Wicaksono: Koperasi Butuh Tata Kelola, Bukan Militerisasi

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pelatihan bergaya militer bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih terus menjadi perbincangan publik.
Pegiat politik, ekonomi, dan sosial, Arif Wicaksono, mempertanyakan efektivitas pendekatan tersebut dalam meningkatkan kualitas pengelolaan koperasi.
Dikatakan Arif, keberhasilan sebuah koperasi tidak ditentukan oleh kedisiplinan ala militer semata, melainkan oleh kemampuan manajerial yang mampu mendorong kinerja usaha dan tata kelola yang baik.
Pelatihan Bergaya Militer Disoal
Arif mengaku tidak sependapat jika pelatihan bagi pengelola Kopdes lebih banyak berfokus pada aspek militerisasi.
“Gagal paham pelatihan militer Kopdes. Membuat Kopdes untung, ukurannya bukan seberapa rapi barisannya,” ujar Arif kepada fajar.co.id, Kamis (2/7/2026).
Ia menegaskan, indikator keberhasilan koperasi dapat dilihat dari kondisi usaha dan manfaat yang dirasakan anggotanya.
“Ukurannya, laporan keuangan sehat, anggota bertambah, usaha berkembang, dan korupsi berkurang,” tukasnya.
Lanjut Arif, kompetensi manajerial tidak bisa digantikan dengan latihan fisik atau kedisiplinan bergaya militer.
“Kompetensi manajerial tidak bisa digantikan dengan latihan militer. Mengelola koperasi bukan hal yang sederhana,” ucap dia.
Ia menjelaskan, seorang manajer koperasi harus menguasai berbagai aspek penting dalam pengelolaan usaha.
“Seorang manajer harus mampu membaca laporan keuangan, mengelola arus kas, menyusun strategi bisnis, mengendalikan risiko, hingga memastikan kepatuhan terhadap aturan,” sebutnya.
Fokus pada Penguatan Kapasitas
Arif berpandangan, apabila pemerintah ingin menjadikan Kopdes sebagai penggerak ekonomi desa, maka perhatian utama seharusnya diarahkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Kalau pemerintah ingin Kopdes benar-benar menjadi motor ekonomi desa, investasi terbesar seharusnya pada peningkatan kapasitas, akuntansi, pemasaran, digitalisasi, logistik, tata kelola, dan kepemimpinan organisasi,” terangnya.
Ia mengakui disiplin merupakan unsur penting dalam kepemimpinan. Namun, hal itu bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan sebuah koperasi.
“Disiplin memang penting. Tetapi disiplin hanyalah salah satu unsur dalam kepemimpinan,” Arif menuturkan.
“Tanpa kompetensi teknis dan sistem pengawasan yang kuat, koperasi tetap berisiko gagal meski para pengurusnya sangat disiplin,” tambahnya.
Perkuat Tata Kelola Koperasi
Lebih lanjut, Arif mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan banyak koperasi mengalami kegagalan bukan karena kurang disiplin, melainkan akibat lemahnya tata kelola.
Source link
