Berdiri di Tengah Tambak Ikan, Bangunan Koperasi Desa di Pati Jadi Sorotan

PORTALUTAMA.NET, PATI — Pembangunan sebuah gedung Koperasi Desa Merah Putih di Desa Langgenharjo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mendadak viral dan memancing kontroversi di media sosial.
Pasalnya, fasilitas publik yang seharusnya mudah diakses oleh masyarakat tersebut justru dibangun di lokasi yang tidak lazim, yakni di tengah-tengah area tambak ikan yang jauh dari permukiman warga.
Selain lokasinya yang terisolasi, akses menuju kantor koperasi tersebut diketahui masih berupa jalan tanah. Kondisi ini dinilai janggal oleh banyak pihak mengingat fungsi utama koperasi desa adalah untuk melayani kebutuhan warga setempat secara praktis.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek ini awalnya direncanakan dibangun di area lapangan bola voli yang terletak di tengah kampung. Namun, rencana tersebut mendapat penolakan keras dari warga karena lapangan tersebut masih aktif digunakan untuk kegiatan olahraga.
Riuh Komentar Netizen: Dari Sindiran Jenaka hingga Kritik Tajam
Meskipun perangkat desa menyatakan pembangunan tersebut legal secara prosedur, potret bangunan yang dikelilingi tambak ikan ini tetap memicu gelombang reaksi negatif dan kebingungan dari netizen di kolom komentar. Manyarakat menyayangkan perencanaan tata ruang yang dianggap kurang matang.
Beberapa netizen memberikan komentar bernada sindiran mengenai target pasar koperasi tersebut.
“Rencana bakulan pakan iwak (rencana jualan pakan ikan),” tulis akun @rangga_dioxide01.
Senada dengan hal itu, akun @mursalinkadam menambahkan, “Yang belanja pasti para pemancing.”
Kekhawatiran mengenai keamanan dan aksesibilitas juga mencuat. Netizen membayangkan betapa sulitnya jika ada karyawan atau warga yang harus mengakses lokasi tersebut menggunakan transportasi daring.
“Wi lek enek karyawan seng budal numpak Gojek, Gojek-e langsung berpikiran samar lek wi begal (Itu kalau ada karyawan berangkat naik Gojek, driver-nya pasti langsung curiga dikira begal),” komentar @wahyu_pamula123.
“Makanya perlu mobil 4×4 Mahindra,” sindir @c.rakhman”
Tak hanya sekadar candaan, kritik tajam mengenai efisiensi anggaran negara pun ramai disuarakan. Banyak yang mempertanyakan bagaimana perputaran ekonomi koperasi bisa menutup biaya operasional dan gaji manajemen jika lokasinya sepi pembeli.
“Ayo berfikir bersama. Gajinya manajer itu tinggi 5-8 juta, belum lagi karyawan lain. Apa gaji mereka dari hasil penjualan? Kalau kopdesnya sepi diambilkan dari uang mana, APBN? Tambah bengkak lagi dong pajak untuk masyarakat?” kritik akun @puro_purnomo.
“Programnya menghambur-hamburkan uang negara, sementara rakyatnya teng pecicilan kelaparan,” ujar @adi.isnadi6 meluapkan kekecewaannya
Source link
