News

Dokter Juga Bisa Runtuh, Kepergian Dokter Icha Ungkap Beban Berat Nakes IGD



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Kematian dr Icha di Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT menyayat hati banyak tenaga kesehatan.

Bukan hanya karena Indonesia kehilangan seorang dokter muda, tapi karena kasus ini menampar dua hal besar yang sering disalahpahami, keputusan medis dan mental nakes.

Hal itu disampaikan Selviana Soi dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dalam pernyataan tertulis di akun pribadinya

Selviana meluruskan anggapan umum masyarakat, setiap gigitan ular harus langsung diberi Serum Anti Bisa Ular atau SABA.

“Tidak. Dunia medis tidak sesederhana itu,” tegasnya, dikutip fajar.co.id pada Selasa (30/6/2026).

Ia menjelaskan, ada kondisi yang disebut dry bite, ular menggigit tapi tidak menyuntikkan bisa. Karena itu, pemberian SABA tidak boleh hanya berdasarkan cerita keluarga, kepanikan, atau asumsi “ini ular berbisa”.

Dokter harus memeriksa terlebih dahulu. Ada bengkak progresif, nyeri hebat, perdarahan, kelumpuhan, gangguan napas, atau tanda envenomasi sistemik atau tidak. Baru setelah itu diputuskan SABA perlu atau tidak.

Alasannya, SABA bukan obat biasa. Stoknya terbatas, harganya mahal, dan bisa menimbulkan reaksi alergi berat hingga anafilaksis yang mengancam nyawa.

“Jadi ketika seorang dokter memutuskan tidak memberikan SABA, itu tidak otomatis berarti lalai. Bisa jadi ia justru sedang menjalankan ilmu dan protap dengan benar,” ujarnya.

Di Balik Meja IGD Ada Puluhan Keputusan Cepat dan Harus Cermat

Lebih menyakitkan, kata Selviana, adalah beban mental nakes di IGD yang jarang terlihat masyarakat.

Dalam satu waktu, dokter jaga bisa memikirkan puluhan keputusan sekaligus. Perlu infus atau tidak, oksigen, rawat inap, dosis obat, jahit luka, rontgen, transfusi, hingga lapor ke spesialis mana dulu.

“Satu keputusan yang salah bisa berdampak pada nyawa. Itulah yang dipikul dokter jaga IGD setiap hari,” katanya.

Semua harus diputuskan cepat, kadang dalam hitungan menit. Sambil menghadapi pasien yang terus datang, keluarga yang panik, alat terbatas, tenaga kurang, dan tubuh sendiri yang belum makan dan tidur.

Ironisnya, lanjut Selviana, yang tidak gawat darurat justru sering paling ribut. Membentak meja, mengancam, merekam, hingga berkata “Saya viralkan”.

Ia mengingatkan, IGD bekerja dengan triase, bukan urutan datang. Yang diprioritaskan adalah siapa paling dekat dengan kematian.

“Bukan karena kami tidak peduli pada Anda. Tapi karena kami sedang berusaha mencegah seseorang mati,” tegasnya.

Setop Merasa Diri Harus Selalu Kuat

Selviana juga menyuarakan kondisi nakes. Burnout di IGD nyata. Ada hari-hari nakes belum makan, belum minum, belum ke toilet, tapi tetap harus berpikir jernih dan terlihat kuat.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *