News

Taruhan Nyawa Demi Koperasi: Tragedi Latsarmil SPPI dan Gugatan Akal Sehat



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Impian Novia Rahmadhani Sihotang untuk menjadi penggerak ekonomi di daerahnya harus pupus di barak latihan. Gadis muda ini mengembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan penyakit Tuberkulosis (TBC) yang mengganas di tengah ketatnya Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).

Novia tidak sendiri. Hingga hari ini, ada lima nama, masing-masing Novia, Anisa, Yonanda, Rifki, dan Nola, yang terbaring kaku, meninggalkan kedukaan mendalam bagi keluarga. Mereka adalah para calon manajer Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Merah Putih yang sedianya dipersiapkan untuk memajukan ekonomi warga, namun justru pulang dalam peti jenazah.

Kematian tragis ini seketika membuka kotak pandora mengenai rapuhnya sistem penyaringan komitmen bela negara yang dilakukan oleh Panitia Seleksi Nasional (Panselnas).

Skrining yang Kebobolan dan “Klasterisasi” Pasca-Tragedi

Di bawah tekanan publik, Kementerian Pertahanan (Kemhan) bergerak melakukan penanganan dampak. Kepala BPSDM Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, pada Sabtu (27/6/2026), mengakui adanya celah dalam proses rekrutmen awal. Beberapa peserta dengan riwayat penyakit kronis lolos tanpa terdeteksi.

“Dari satlat setempat yaitu dari Halim Perdanakusuma langsung melaksanakan tracing kepada seluruhnya… Kemudian dilaksanakan klasterisasi dan tindakan kedokteran lebih lanjut,” ujar Mayjen Ketut.

Pihak Kemhan mengklaim situasi saat ini di barak isolasi sudah “aman dan terkendali” di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan. Namun, fakta lain yang terungkap justru kian mencengangkan. Sebanyak 32 peserta didepak pulang dari barak karena terdeteksi dalam kondisi hamil. Pemulangan dengan dalih “kemanusiaan” ini menjadi bukti sahih betapa longgar dan butanya pemeriksaan medis di awal seleksi.

Kritik Pedas Tere Liye: “Duh Rabbi, Ini Tuh Nyari Penyakit”

Tragedi ini memicu gelombang kemarahan di ruang digital. Salah satu suara paling lantang datang dari penulis kenamaan sekaligus akuntan, Tere Liye. Lewat sebuah unggahan menohok di media sosialnya, ia mempertanyakan absennya logika dalam program pelatihan ini.

Tere Liye menyoroti ironi di mana para peserta disaring hanya melalui tes berbasis komputer (CAT) dan wawancara, tanpa ada uji fisik lari 2 kilometer atau cek laboratorium kesehatan yang komprehensif, namun langsung dijebloskan ke dalam kerasnya dunia militer.

“Ketahuilah, anak-anak yang daftar jadi manajer koperasi merah putih ini kan saat seleksi tidak pernah dites lari… Lantas mereka disuruh ikut latihan militer? Duh Rabbi, ini tuh nyari penyakit,” kritik Tere Liye tajam.

“Nyawa manusia itu dihargai dikit. Ini tuh bukan cuma soal 1, 2, 3, 4. Ini tuh soal akal sehat,” sambungnya.

Korelasi Senapan dan Koperasi

Lebih jauh lagi, publik kini mulai menggugat relevansi mendasar dari kurikulum pelatihan tersebut. Apa hubungannya antara taktik merangkak di bawah kawat berduri dengan kemampuan menyusun laporan keuangan koperasi?



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *