Jokowi Curiga Ada Operasi Politik Besar, Mardiansyah Semar: Lawan-lawannya Mulai Panik

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Dugaan adanya operasi politik besar di balik berbagai persoalan yang menyeret Presiden ke-7 RI Jokowi dan keluarganya kembali menjadi perbincangan.
Ketua Umum Rampai Nusantara, Mardiansyah Semar, menilai kecurigaan Jokowi tersebut dapat dipahami jika melihat rentetan polemik yang terus melibatkan namanya dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Mardiansyah mengatakan, persoalan yang berulang kali menerpa Jokowi dan Gibran memunculkan kesan adanya pola serangan politik.
Kecurigaan Jokowi soal Operasi Politik Bisa Dipahami
Mardiansyah merespons pernyataan pengamat politik Ray Rangkuti terkait dugaan operasi politik yang dicurigai Jokowi berada di balik berbagai persoalan yang menimpa dirinya dan keluarga.
Kata Mardiansyah, Ray tidak harus secara terbuka membenarkan dugaan tersebut ataupun menyebut siapa pihak yang dianggap berada di baliknya.
“Jadi kalau Ray menyampaikan itu, sudah pada tempatnya itu. Jadi nggak peduli, bodoh amat gitu ya. Sudah pada tempatnya,” ujar Mardiansyah, dikutip fajar.co.id, Senin (19/10/2026).
Ia menjelaskan, seorang pengamat politik tentu perlu berhati-hati ketika menanggapi dugaan adanya operasi politik. Tanpa dasar yang jelas, menurutnya, Ray tidak mungkin langsung menunjuk pihak tertentu sebagai pelaku.
“Karena positioning Ray itu kan gak mungkin juga menjelaskan apa yang disampaikan Pak Jokowi, ada operasi politik,” tukasnya.
“Terus ditanya Ray, bener gak ada operasi politik, masa Ray bilang bener yang operasi ABC, saya operatornya kan gak mungkin. Pasti gak peduli gitu loh,” lanjutnya.
Mardiansyah kemudian menyampaikan pandangannya bahwa rangkaian polemik yang menyeret Jokowi dan Gibran dapat menimbulkan kesan adanya gerakan yang terkoordinasi.
“Nah bahwa memang akhirnya ini terlihat ada orkestrasi ya, kan wajar juga Pak Jokowi merasa itu,” ucap dia.
Polemik Pendidikan Gibran dan Emil Dardak
Mardiansyah mempertanyakan mengapa persoalan tersebut terus diarahkan kepada putra sulung Jokowi, sementara menurutnya pendidikan luar negeri juga ditempuh oleh sejumlah pejabat lain.
“Kayal misalnya Gibran, konteks sekolah di luar negeri kan gak cuma Gibran, banyak juga pejabat lain,” jelasnya.
Menurut Mardiansyah, apabila persoalan pendidikan berkaitan dengan penerapan aturan dan standar tertentu, evaluasi semestinya dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada satu individu.
“Kalau perjuangan nilai dan norma kan harusnya semua pukul rata untuk diperbaiki itu, aturannya dan lain sebagainya,” cetusnya.
Ia juga membawa nama Emil Dardak dalam perbandingan tersebut. Mardiansyah menilai konteks pendidikan luar negeri tidak semestinya menjadi persoalan yang hanya ditujukan kepada Gibran.
Source link
