News

Dedek Prayudi Remehkan Prof Sulfikar Amir, Arif Wicaksono Balas dengan 45 Publikasi dan 1.200 Sitasi



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pegiat media sosial, Arif Wicaksono, menanggapi pernyataan Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedek Prayudi, yang terkesan merendahkan kualitas akademik Prof Sulfikar Amir, akademisi asal Indonesia yang mengajar di Singapura.

Arif membandingkan rekam jejak akademik keduanya. Ia mengungkapkan bahwa Sulfikar telah mengantongi publikasi ilmiah dan jumlah sitasi yang tidak main-main.

Arif Ungkit Publikasi dan Sitasi Sulfikar Amir

Blaky, Arif menuturkan sejumlah capaian akademik Sulfikar Amir yang berafiliasi dengan Nanyang Technological University (NTU), Singapura.

“Sulfikar Amir, Assoc Prof NTU Singapura, 45 publikasi, 1.200+ sitasi, PhD STS dari RPI,” ujar Arif, dikutip fajar.co.id, Sabtu (17/10/2026).

Bukan hanya itu, ia turut menyinggung status pendidikan doktoral Dedek yang disebutnya masih berstatus kandidat.

“(Sementara itu) Dedek Prayudi-Uki, Dr (cand) sampe sekarang masih ‘cand’. Caleg Gagal, Ketua DPP PSI, partai gagal DPR,” Arif menuturkan.

“Jubir PCO, gaya buzzer yang nyerang Jokowi dan fam digigitnya,” tambahnya.

Dedek Sebut Penelitian Sulfikar Perlu Diuji

Setelah ramai jadi perbincangan karena menguliti latar belakang pendidikan Wapres Gibran Rakabuming Raka, Dedek Prayudi memberikan penilaiannya terhadap Sulfikar Amir.

Ia menyinggung posisi akademik Sulfikar sebagai associate professor serta keterlibatannya dalam tim sukses Anies Baswedan.

“Sulfikar Amir, dia masih assoc Prof. Dia eks timses Anies,” ucap Dedek.

Dedek juga mengklaim Sulfikar pernah menerima proyek penelitian dari Anies yang menurutnya perlu diuji.

“Kalau dia konsultan saya, pembayaran termin terakhir gak saya kasih kecuali rombak total dan saya blacklist. Not qualified,” tegasnya.

Sebelumnya, Prof Sulfikar Amir dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura kembali memberikan penjelasan terkait polemik pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Singapura.

Isu tersebut kembali menjadi sorotan setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada 6 Oktober 2026.

Sulfikar menjelaskan perbedaan antara program Advanced Diploma yang ditawarkan sejumlah lembaga pendidikan swasta di Singapura dan kualifikasi A-Level yang menjadi salah satu jalur menuju perguruan tinggi di negara tersebut.

“Kalau yang ditanya anak-anak Singapura, mereka akan mengamuk. Karena untuk menyelesaikan A-Level itu susah sekali. Di ujungnya, A-Level itu ada ujian. Di mana mereka harus mengambil subjek-subjek yang sangat spesifik,” kata Sulfikar, Kamis (15/10/2026).

Sulfikar Amir Jelaskan Sulitnya Ujian A-Level di Singapura



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *