News

Prabowo Tertinggal Jauh dari Dedi Mulyadi, Saidiman Ahmad: Tanpa KDM Pun Masih Kalah



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saidiman Ahmad, menyoroti hasil survei nasional SMRC pada Oktober 2026 yang menunjukkan posisi Presiden Prabowo Subianto dalam sejumlah simulasi pemilihan presiden (Pilpres).

Melalui narasi berjudul “Prabowo Semakin Tidak Diinginkan: Kalah Bukan Hanya oleh KDM, tapi Juga Bisa oleh Anies, Gibran, dan AHY”, Saidiman menyebut hasil survei tersebut memperlihatkan bahwa dukungan terhadap Prabowo relatif rendah dibandingkan sejumlah tokoh lain.

Menurut Saidiman, jika Pilpres digelar saat ini, hasil berbagai simulasi dalam survei SMRC menunjukkan Prabowo menghadapi persaingan ketat dengan sejumlah tokoh potensial.

Survei tersebut melibatkan 1.213 responden yang dipilih secara acak. Sebanyak 1.013 responden diwawancarai melalui telepon, sedangkan 200 lainnya diwawancarai secara tatap muka untuk menjangkau warga yang tidak memiliki telepon seluler.

Margin of error survei ini sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Dalam simulasi semi-terbuka, responden diberikan daftar 24 nama tokoh dan diperbolehkan menyebutkan nama lain di luar daftar tersebut.

“Hasilnya, Prabowo hanya didukung 9,8 persen. Angka itu bersaing ketat dengan Anies Baswedan (10,3 persen) dan Gibran Rakabuming Raka (8,4 persen). Sementara itu, Dedi Mulyadi (KDM) jauh meninggalkan semuanya dengan 35,5 persen. Seorang presiden petahana kini berada di kelompok yang sama dengan tokoh-tokoh berdukungan sekitar 10 persen,” kata Saidiman Ahmad, Sabtu (17/10/2026).

Survei SMRC: Dedi Mulyadi Unggul Jauh atas Prabowo

Saidiman juga menyoroti hasil simulasi head-to-head antara Prabowo dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Dalam simulasi tersebut, Prabowo memperoleh dukungan 18,8 persen, sedangkan Dedi mencapai 69,3 persen.

Padahal, dalam survei Februari–Maret 2026, Prabowo masih unggul dengan dukungan 50,5 persen, berbanding 42,6 persen untuk Dedi.

Pada Juli 2026, kondisi tersebut berbalik. Dukungan terhadap Dedi meningkat menjadi 59 persen, sementara Prabowo turun menjadi 28,3 persen.

Pada Oktober 2026, selisih dukungan keduanya semakin lebar. Saidiman menilai perubahan tersebut menunjukkan kemerosotan posisi Prabowo dalam simulasi pemilihan presiden selama delapan bulan terakhir.

“Mungkin ada yang berpikir bahwa suara Prabowo hanya diambil Dedi Mulyadi, yang juga kader Gerindra. Kalau Dedi tidak maju, bukankah suaranya akan kembali ke Prabowo?” ujar Saidiman.

Untuk menguji kemungkinan tersebut, SMRC melakukan simulasi tiga nama tanpa Dedi, yakni Prabowo, Gibran Rakabuming Raka, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *