Desakan Pemakzulan Memanas, Fritz Alor Boy Sebut Denny Indrayana Sakit Hati ke Jokowi

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Ketua Umum Pasukan Gibran Indonesia, Fritz Alor Boy, memberikan komentar pedas terhadap Denny Indrayana beserta kelompok masyarakat sipil yang terus menderaskan wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Fritz menilai gerakan pemakzulan tersebut murni dilandasi syahwat politik untuk berebut kekuasaan dan merapat ke lingkaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, bukan atas dasar penegakan hukum yang murni.
“Orang-orang yang ingin memakzulkan Mas Gibran bukan punya tujuan untuk menegakkan hukum yang murni, melainkan menegakkan politik yang murni,” ujar Fritz, dikutip Jumat (16/10/2026).
Fritz membongkar alasan di balik penilaian kerasnya tersebut. Menurutnya, ada kelompok yang sengaja menciptakan kegaduhan politik agar bisa merangsek masuk ke dalam jajaran kabinet.
“Kenapa politik? Orang-orang ini adalah orang-orang yang haus kekuasaan ingin berkuasa. Mereka ingin mendampingi Bapak Presiden Prabowo Subianto,” tukasnya.
Fritz menyoroti pergerakan lintas partai hingga manuver di DPR, Mahkamah Konstitusi (MK), serta media massa yang menurutnya didorong oleh motif oportunistis.
“Tapi saya melihat orang-orang ini adalah orang-orang haus kekuasaan. Termasuk tim-timnya yang jalan ke DPR, teriak di MK, teriak di TV-TV. Ini adalah haus kekuasaan,” lanjutnya.
Selain ambisi jabatan, Fritz menduga pergerakan ini dipicu oleh dendam dan kekecewaan lama terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), yang kemudian dilampiaskan kepada Gibran.
“Selain daripada haus kekuasaan, juga sakit hati dengan Pak Jokowi. Sehingga mereka melampiaskan kepada Pak Gibran,” ungkapnya.
Fritz memerinci sejumlah latar belakang kekecewaan tersebut, mulai dari pembubaran organisasi terlarang hingga kekecewaan akibat tidak diberi jabatan di masa lalu.
“Kenapa? Organisasi terlarang yang mereka puja-puja dibubarkan, jabatannya tidak dikasih Pak Jokowi, dipecat dalam perjalanan, bersatu berkumpul lalu ingin sekali memakzulkan Mas Gibran,” katanya.
Menanggapi polemik keabsahan dokumen pendidikan Gibran, Fritz pasang badan dan menegaskan keyakinannya bahwa sang Wakil Presiden mengantongi ijazah S1 yang sah dari perguruan tinggi luar negeri.
“Tapi perlu kita ketahui Profesor dari Nanyang juga mengatakan bahwa Mas Gibran punya ijazah S1. Mas Gibran juga sudah mengatakan bahwa punya ijazah S1,” terangnya.
Fritz meminta publik membedakan sistem pendidikan luar negeri dengan Indonesia serta bersabar mengenai pembuktian dokumen fisik secara terbuka.
“Nah bagaimana orang mau bisa lanjut kuliah S1 kalau tidak melalui setara atau setingkat SMA, ingat bedakan sistem pendidikan di Indonesia dengan sistem pendidikan di luar, terkait dengan yang Anda minta mana tunjukin dong, semua ada waktu,” imbuhnya.
Source link
