News

Andi Arief Yakin Dirut Baru PLN Suroso Isnandar Lanjutkan Transformasi dan Genjot EBT



PORTALUTAMA.NET – Komisaris Independen PT PLN (Persero) Andi Arief menilai pergantian Direktur Utama PLN dari Darmawan Prasodjo kepada Suroso Isnandar sebagai hal wajar dalam dinamika kepemimpinan perusahaan. Ia menekankan pentingnya menjaga kesinambungan transformasi yang telah berjalan, terutama pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).

Menurut Andi Arief, Darmawan Prasodjo telah mengemban sejumlah posisi strategis di PLN selama bertahun-tahun, mulai dari komisaris, wakil direktur utama, hingga direktur utama. Karena itu, pergantian kepemimpinan dinilainya sebagai bagian dari proses organisasi yang normal.

“Kalau menurut saya, pergantian ini biasa saja. Pak Darmawan Prasodjo sudah cukup lama di PLN. Beliau pernah menjadi komisaris, wakil direktur utama, kemudian direktur utama,” ujar Andi Arief, Kamis (15/10/2026).

Ia menegaskan, pergantian direktur utama tidak seharusnya dipandang sebagai hambatan bagi program transformasi perusahaan. Sebaliknya, kepemimpinan baru diharapkan mampu melanjutkan berbagai perubahan yang telah dirintis sebelumnya.

Andi Arief menilai pengalaman Suroso di lingkungan PLN menjadi modal penting untuk menjaga kesinambungan tersebut. Selama kepemimpinan Darmawan, Suroso pernah menjabat sebagai Direktur Manajemen Risiko dan kemudian Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan.

“Ini menjamin continuity. Transformasi yang sudah dilakukan Pak Darmawan Prasodjo, dengan banyak perubahan di PLN, diharapkan bisa dilanjutkan oleh Pak Suroso. Jadi, menurut saya, tidak ada masalah dengan pergantian ini,” katanya.

Lebih lanjut, Andi Arief menyoroti tantangan besar yang akan dihadapi PLN ke depan, terutama dalam mendukung transisi energi nasional. Menurutnya, pengembangan energi terbarukan akan menjadi fokus penting dalam agenda pembangunan sektor ketenagalistrikan.

Ia merujuk pada rencana pengembangan kapasitas pembangkit hingga 2034, dengan porsi energi terbarukan yang ditargetkan mencapai sekitar 70 persen. Dalam rencana tersebut, pembangunan kapasitas pembangkit baru disebut mencapai sekitar 59 gigawatt (GW).

“Kalau kita melihat rencana sampai 2034, sekitar 70 persen dari pembangunan pembangkit yang direncanakan merupakan energi terbarukan. Karena itu, ke depan kita akan membangun berbagai sumber energi, mulai dari tenaga surya, air, angin, hingga nuklir,” ujar Andi Arief.

Menurut dia, pengembangan EBT tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, tetapi juga membutuhkan perencanaan proyek yang matang, kesiapan infrastruktur, serta kepastian regulasi.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *