News

Prof Sulfikar Amir Sebut Lulusan MDIS Sulit Kerja di Pemerintahan Singapura, Denny Indrayana: di Indonesia Jadi Wapres



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Akademisi Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Prof. Sulfikar Amir, menjelaskan perbedaan jalur pendidikan di Singapura, termasuk posisi lembaga pendidikan swasta Management Development Institute of Singapore (MDIS).

Penjelasan tersebut disampaikan dalam diskusi program Rakyat Bersuara yang disiarkan iNews TV, saat membahas sistem meritokrasi di Singapura, peluang lulusan lembaga pendidikan swasta bekerja di pemerintahan, hingga perbedaan kualifikasi Advanced Diploma dan A-Level.

Dalam diskusi tersebut, Prof. Sulfikar menjelaskan bahwa masyarakat Singapura dikenal menerapkan sistem meritokrasi, yakni prinsip yang menempatkan kemampuan dan pencapaian sebagai pertimbangan penting.

Ia menggambarkan bahwa mahasiswa dengan prestasi akademik tinggi biasanya memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke universitas, termasuk di luar negeri.

“Biasanya ke luar negeri, ke Australia, ke Amerika, ke China, ke Inggris,” ujar Prof. Sulfikar dalam diskusi tersebut, dikutip dari akun X pada Rabu (14/10/2026).

Ia kemudian menjelaskan bahwa sebagian orang yang tidak tertampung dalam jalur pendidikan tersebut memilih lembaga pendidikan swasta, seperti MDIS.

“Nah, sisanya lagi yang nilai akademiknya relatif rendah dan kurang modal, ambillah private education institution tadi. Seperti MDIS,” katanya.

Menurut Prof. Sulfikar, sistem meritokrasi di Singapura turut memengaruhi cara masyarakat memandang kualifikasi pendidikan seseorang.

“Masyarakat Singapura itu kan masyarakat yang sangat meritokratik. Dan masyarakat meritokratik itu masyarakat yang sangat diskriminatif terhadap orang-orang yang mau shortcut,” jelasnya.

Ia menilai lulusan lembaga pendidikan swasta seperti MDIS umumnya menghadapi tantangan tersendiri ketika ingin mendapatkan pekerjaan di pemerintahan Singapura.

“Jadi lulusan private education institution seperti MDIS biasanya agak sulit untuk mendapatkan pekerjaan di pemerintah,” katanya.

Prof. Sulfikar menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan persepsi mengenai kualifikasi akademik lulusan lembaga pendidikan swasta dibandingkan dengan mereka yang menempuh jalur pendidikan konvensional hingga masuk universitas.

“Karena dianggap tidak memiliki kualifikasi yang sesuai dengan mereka yang lulusan A-Level yang kemudian masuk ke universitas,” tuturnya.

Lebih lanjut, Prof. Sulfikar menjelaskan bahwa lembaga pendidikan swasta seperti MDIS menawarkan program yang dapat menarik mahasiswa asing untuk datang dan merasakan pengalaman belajar di Singapura.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *