News

Serunya Family Water War di PIK2, Anak dan Orang Tua Larut dalam Perang Air



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Tidak banyak orang yang berusaha menghindari air di Little Siam PIK2 pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Sebaliknya, semakin basah pakaian mereka, semakin ramai suasananya.

Anak-anak berlari membawa pistol air. Orang tua membalas dari kejauhan. Remaja saling mengejar. Sesekali busa putih beterbangan di antara peserta.

Sore itu, Family Water War 2026 membuat Little Siam berubah menjadi arena permainan air selama dua jam.

Kegiatan dimulai pukul 15.00 WIB.

Sebagian peserta datang dengan pakaian yang memang disiapkan untuk basah. Sebagian lainnya menggunakan jas hujan berwarna hijau, biru hingga oranye.

Panitia turut menyiapkan perlengkapan bagi setiap peserta.

Mereka mendapatkan pistol air, kacamata bening untuk membantu melindungi mata saat perang air berlangsung, serta case yang dapat digunakan untuk menjaga gadget dari cipratan.

Ketika permainan dimulai, suasana langsung berubah.

Satu tembakan air sering kali dibalas dengan beberapa tembakan sekaligus. Anak-anak mengejar orang tua. Orang dewasa juga tidak segan membalas.

Di tengah keramaian itu ada Steven bersama dua anaknya.

Ia memilih menikmati seluruh rangkaian permainan hingga acara selesai.

“Anak-anak suka banget pas ada hujan salju dari busa. Mereka juga senang semprot-semprotan dan basah-basahan,” kata Steven.

Menurut dia, dua anaknya justru semakin antusias ketika permainan memasuki sesi hujan busa.

“Kami betah sampai selesai jam lima sore. Anak-anak masih semangat terus,” ujarnya.

Sementara perang air berlangsung, kegiatan lain ikut menghidupkan Little Siam.

Live DJ mengiringi permainan. Sesi Zumba kemudian mengajak pengunjung bergerak bersama di depan panggung.

Menariknya, peserta Zumba tidak hanya berasal dari kelompok dewasa. Anak-anak hingga ibu-ibu terlihat mengikuti gerakan yang diperagakan instruktur.

Pada bagian lain, balloon park dipenuhi anak-anak yang bermain di wahana inflatable.

Momen yang paling menarik perhatian muncul ketika hujan busa dilepaskan.

Busa berwarna putih memenuhi udara dan jatuh di antara peserta. Anak-anak menyambutnya sambil berteriak dan kembali memainkan pistol air mereka.

Hujan gelembung menambah variasi kegiatan sore tersebut.

Bagi Christin, suasana itu membawa memori berbeda.

Mahasiswa tersebut pernah merasakan langsung kemeriahan Songkran di Thailand.

“Menurut saya vibenya mirip. Saya pernah ke Thailand dan ikut water war atau Songkran di sana,” kata Christin.

Pengalaman itu membuatnya melihat Family Water War bukan sekadar permainan air biasa.

Menurut dia, konsepnya punya potensi untuk dikembangkan menjadi agenda yang lebih besar.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *