News

Pakar Goblok Jadi Bahan Tertawaan Kader PAN, Latifana Baswedan Sayangkan Pernyataan Keluar dari Presiden



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyindir sejumlah pihak berlabel pakar dengan sebutan “saking pintarnya jadi goblok” menuai sorotan publik.

Kritik terhadap pernyataan tersebut salah satunya disampaikan oleh influencer sekaligus konsultan media agency, Latifana Baswedan.

Lewat unggahan di akun Instagram miliknya, Latifana menilai persoalan utama bukan hanya terletak pada pilihan kata yang digunakan Presiden Prabowo, melainkan pesan mendasar yang berpotensi muncul ketika seorang kepala negara merespons pandangan para ahli dengan cara sedemikian rupa.

“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok.” — Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, 18 September 2026,” tulis Latifana mengutip pernyataan Prabowo, dikutip Sabtu (19/9/2026).

Menanggapi sindiran tersebut, Latifana sangat menyayangkan ucapan itu keluar dari mulut seorang pemimpin negara.

“Sangat disayangkan bahwa pernyataan seperti ini keluar dari seorang pemimpin negara,” sambungnya.

Menurut Latifana, hal yang paling mengecewakan bukanlah semata-mata pemilihan katanya. Lebih dari itu, ia menyoroti narasi atau pesan yang terbentuk—seolah-olah kepakaran pantas untuk diremehkan saat pandangan para ahli tidak sejalan dengan garis kekuasaan.

“Yang mengecewakan tidak hanya soal pemilihan katanya, tetapi pesan yang bisa lahir dari statement tersebut bahwa seolah kepakaran pantas untuk diremehkan ketika pandangan para ahli tidak sejalan dengan kekuasaan,” ujarnya.

Latifana mengakui bahwa pakar bukanlah figur yang selalu benar. Pendapat seorang ahli tentu tetap terbuka untuk diuji, dikritik, diperdebatkan, bahkan dibantah. Namun, menurutnya, perbedaan pandangan akademik semestinya dilawan dengan argumentasi yang sepadan, bukan dengan merendahkan kapasitas keilmuan seseorang.

“Pakar tentu bukan manusia yang selalu benar. Mereka juga boleh dikritik, diperdebatkan pandangannya, bahkan dibantah sekalipun. Akan tetapi, bantahlah ilmunya dengan ilmu, datanya dengan data, dan argumentasinya dengan argumentasi,” tegas Latifana.

Ia pun memberikan gambaran konkrit mengenai tata cara sanggahan yang ideal. Jika analisis seorang pakar dinilai keliru, maka yang perlu dibongkar adalah metodologinya. Jika data yang digunakan tidak tepat, bantahan seharusnya disertai data pembanding.

“Jika analisisnya memang keliru, bantah metodologinya. Jika data yang dikaji salah, hadirkan data pembanding yang benar. Jika argumentasinya lemah, patahkan dengan argumentasi yang lebih kuat,” pungkasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *