News

Prof Budu: Karakter Anak Dibentuk dengan Iman dan Teladan Orang Tua, Jadikan Iduladha Momentum Pendidikan Keluarga



PORTALUTAMA.NET, MAKASSAR — Karakter anak tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan dibentuk oleh iman, keteladanan orang tua, lingkungan yang sehat, keluarga harmonis, dan doa yang tak putus.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K)., M.MedEd., dalam khutbah Iduladha bertema “Ismail Muda dan Tarbiah Keluarga Ibrahim” di Halaman Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel, Makassar, Rabu (27/5/2026).

Prof. Budu mengajak jamaah menjadikan Iduladha bukan sekadar peringatan ibadah kurban, tetapi juga momentum memperkuat tanggung jawab keluarga dalam mendidik anak.

Kisah Nabi Ismail: Teladan Kepatuhan dan Kesabaran

Dalam khutbahnya, Budu menjadikan kisah Nabi Ismail sebagai pintu masuk membahas tanggung jawab keluarga muslim. Ia menegaskan, peristiwa kurban bukan hanya ritual penyembelihan hewan, melainkan pelajaran tentang pendidikan iman, kesabaran, dan kepatuhan kepada Allah SWT.

“Perayaan Idul Adha adalah sejarah tentang ketegaran jiwa dan kepatuhan seorang Ismail muda saat dirinya dijadikan kurban untuk disembelih oleh ayahnya, Ibrahim,” ujarnya.

Menurut Budu, ketegaran Nabi Ismail tidak muncul tiba-tiba. Karakter itu lahir dari pendidikan iman dan kesabaran yang ditanamkan Siti Hajar dan Nabi Ibrahim sejak dini, sehingga Nabi Ismail memiliki fondasi moral kuat saat menghadapi ujian besar.

“Kepatuhan Nabi Ismail AS berakar dari pendidikan iman dan kesabaran yang ditanamkan oleh ibunya, Siti Hajar, dan ayahnya, Nabi Ibrahim AS,” kata Budu. Ia menambahkan, pendidikan karakter sejak dini penting karena membentuk fondasi moral, kecerdasan emosional, dan kemampuan anak mengelola diri ketika dewasa.

Orang Tua dan Lingkungan Sebagai Madrasah Pertama

Budu menekankan orang tua sebagai teladan pertama bagi anak. Nabi Ismail dididik melalui keteladanan langsung, dialog yang lembut, dan kasih sayang, bukan sekadar perintah kaku.

“Orang tua adalah role model pertama dan utama bagi anak,” tegasnya. Ia mengingatkan, kebiasaan orang tua di rumah akan membentuk karakter, kecerdasan sosial, dan kesehatan mental anak hingga dewasa.

Selain keluarga, lingkungan juga menjadi ruang kelas utama. Nabi Ismail tumbuh dalam tarbiah ilahiah yang mendalam, dan keterasingan dari masyarakat jahiliah justru membentuk kepribadian yang tangguh, taat, dan sabar.

“Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat terus-menerus membentuk cara anak berpikir, bersosialisasi, dan mengelola emosi. Lingkungan yang bersih dari pengaruh negatif akan membantu anak mengembangkan ketahanan mental, kedisiplinan, dan akhlak yang kuat,” jelasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *