News

Said Didu Sebut MBG Sangat Perlu Dievaluasi, Herwin Sudikta Menyebutnya Industrialisasi Tinja



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Mantan Sekretaris BUMN, Muhammad Said Didu kembali angkat suara terkait terus berulangnya kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah.

Kasus terbaru yang paling menyita perhatian adalah keracunan MBG yang terjadi di Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

Akibat keracunan MBG tersebut, sebanyak 512 santri dilaporkan menjadi korban. Menu MBG yang dikonsumsi para santri di ponpes itu sendiri berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanggulangin, Kalitengah, Sidoarjo, Jawa Timur.

“MBG sangat perlu dievaluasi,” kata Said Didu singkat.

Penegasan Said Didu itu merespons pernyataan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak yang mengungkap bahwa setidaknya ada 19 lembaga pendidikan terdampak pada peristiwa keracunan yang bersamaan dengan Ponpes Manba’ul Hikam.

Lebih Pas Disebut Industrialisasi Tinja

Sementara itu, sorotan tajam juga disampaikan pegiat media sosial, Herwin Sudikta. Dia bahkan dengan tegas menyebut program tersebut tidak berguna.

“MBG dari awal sudah kelihatan program sampah. Lebih pas disebut Industrialisasi Tinja,” kata Herwin Sudikta.

Blak-blakan, dia sangat menyayangkan industrialisasi tersebut gagal, dengan banyaknya kasus keracunan yang terjadi sejak program tersebut dijalankan. Belum lagi praktik korupsi yang menyertai program tersebut.

“Sayangnya industri tinja ini gagal total. Yang terealisasi justru:

  • Industri makanan beracun (40.000+ korban keracunan, kasus baru Sidoarjo ratusan santri)
  • Industri sampah makanan (banyak porsi dibuang, anak menolak makan)
  • Industri proyek (dapur membengkak, BGN dikorupsi, anggaran pendidikan dikuras).”

Herwin lantas mempertanyakan makna janji yang selalu disampaikan pemerintah soal makanan bergizi gratis. Idealnya, jika makanan tersebut bergizi, tidak semestinya ada kejadian keracunan yang dialami penerima manfaat.

Karena itu, Herwin khawatir target pemerintah untuk menjadikan Indonesia Emas, yang salah satunya dimulai dari pemberian makanan bergizi bakal hanya jadi angan-angan.

“Dari janji gizi gratis jadi racun gratis.
Dari “Indonesia Emas” jadi “Indonesia Lemes”.
Ironisnya pemerintah masih ngotot “tetap jalan dengan perbaikan”.

Sebelumnya beredar sejumlah video dan foto di media sosial terkait para siswa yang menjadi korban keracunan MBG. Selain itu, terdapat banyak video yang memperlihatkan tumpukan nasi dan lauknya yang terpaksa hanya dibuang, karena tidak dimakan oleh siswa. (fajar)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *