BPS Ungkap Alasan Angka Kemiskinan RI Versi Bank Dunia Berbeda, Said Didu: Cara Paling Gampang Adalah Mengubah Kriteria

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Mantan Sekretaris BUMN sekaligus pegiat media sosial, Said Didu menyorot soal klarifikasi dari Badan Pusat Statistik (BPS)
Klarifikasi dari BPS ini terkait perbedaan angka kemiskinan Indonesia yang dirilis Bank Dunia dengan data kemiskinan nasional yang dihitung BPS.
Perbedaan tersebut terjadi karena Bank Dunia dan BPS menggunakan garis kemiskinan serta metode pengukuran yang berbeda.
Hasilnya, ditemukan angka kemiskinan versi bank dunia yang angkanya mencapai 64,2 persen.
Sementara untuk data nasional BPS itu berada di 8,07 persen atau 22,93 juta orang.
Menyangkut soal standar garis kemiskinan dan tujuan pengukurannya beda. Dalam hal ini Bank Dunia bilang pengeluaran 150 ribu/hari termasuk orang miskin
Sementara untuk BPS itu kalau gaji di bawah Rp3.091.866/bulan baru termasuk orang miskin.
Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, M Nashrul Wajdi mengatakan angka yang dirilis Bank Dunia tidak dihitung menggunakan garis kemiskinan nasional Indonesia.
Ia menegaskan, kedua angka tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung karena disusun berdasarkan standar kemiskinan dan tujuan pengukuran yang berbeda.
“Angka 64,2 persen merupakan perkiraan penduduk Indonesia yang pengeluarannya berada di bawah 8,30 dolar AS per kapita per hari menurut Bank Dunia. Garis kemiskinan tersebut dihitung berdasarkan standar yang ditetapkan World Bank, bukan garis kemiskinan nasional yang digunakan di Indonesia,” sebut dia dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Rabu (2/9/2026) seperti dikutip dari Antara.
“Nilainya ditetapkan berdasarkan standar kemiskinan yang umum digunakan di negara-negara dalam kelompok pendapatan menengah atas, dan digunakan terutama untuk membandingkan kondisi antarnegara,” tambah Nashrul.
Ini kemudian yang disorot dan disindir tajam oleh Said Didu melalui salah satu cuitan di media sosial X pribadinya.
Said Didu menyebut langkah atau cara seperti ini jadi yang paling gampang untuk menurunkan angka kemiskinan yang ada di Indonesia khususnya.
Dengan catatan cara tersebut tidak dilakukan dengan menghadirkan solusi-solusi yang diharapkan. Melainkan dengan mengubah kriteria kemiskinan itu sendiri.
“Artinya,” tulisnya dikutip Kamis (3/9).
“Cara paling gampang turunkan angka kemiskinan adalah mengubah kriteria kemiskinan,” sebut Said Didu. (Erfyansyah/fajar)
Source link
