News

Dari Makassar ke Jantung Nusantara, Wahdah Islamiyah Menjaga Akar, Memperluas Manfaat, Menguatkan Indonesia Berkah



Oleh: Mukhtar Tompo
(Kandidat Doktor Ilmu Administrasi Publik UNM)

Ada organisasi yang tumbuh karena momentum. Ada pula organisasi yang tumbuh karena ketekunan. Wahdah Islamiyah, bagi saya, lebih dekat pada kategori kedua. Ia lahir dari daerah, dari rahim dakwah di Kota Makassar, lalu melangkah pelan tetapi pasti menuju ruang yang lebih luas. Dari semangat lokal ia bermetamorfosis menjadi gerakan kebangsaan yang hadir di berbagai titik Nusantara.

Karena itu, Muktamar V Wahdah Islamiyah tidak cukup dibaca hanya sebagai peristiwa kepemimpinan. Ia adalah kesempatan membaca kembali perjalanan sebuah gerakan: bagaimana ia menjaga identitas, membangun kader, memperluas jaringan, melayani masyarakat, dan menemukan tempatnya dalam kehidupan kebangsaan.

Muktamar V yang berlangsung di Jakarta pada 20–24 Agustus 2026 mengusung tema Memantapkan Persatuan dan Kolaborasi Menuju Indonesia Berkah. Pembukaan resminya berlangsung di Masjid Istiqlal pada 22 Agustus.

Tema itu, bagi saya, bukan sekadar slogan. Ia menggambarkan kebutuhan zaman: umat perlu kuat dalam persaudaraan, tetapi juga mampu bekerja bersama seluruh elemen bangsa.

Dari Fathul Muin menuju Wahdah Islamiyah

Wahdah Islamiyah tidak lahir dalam ruang kosong. Akar sejarahnya berada di Makassar, bermula dari Yayasan Fathul Muin yang didirikan pada 18 Juni 1988. Nama itu merujuk kepada KH Fathul Muin Dg. Maggading, ulama Sulawesi Selatan yang memberi pengaruh penting kepada para pendirinya.

Dalam perjalanannya, organisasi ini mengalami penguatan kelembagaan hingga berkembang menjadi Wahdah Islamiyah.

Bagi saya, yang menarik bukan hanya perubahan nama atau bentuk kelembagaannya. Yang lebih penting adalah kemampuan mengubah idealisme dakwah menjadi sistem. Dari pembinaan Al-Qur’an dan pendidikan, berkembang pesantren, kaderisasi dai, sekolah, perguruan tinggi, kegiatan sosial, kesehatan, pemberdayaan ekonomi dan berbagai pelayanan masyarakat.

Itulah hukum alam sebuah gerakan: kalau ingin bertahan, ia harus mampu mengubah energi idealisme menjadi sistem. Gagasan membutuhkan kader. Kader membutuhkan pembinaan. Pembinaan membutuhkan lembaga. Dan lembaga harus melahirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Pendidikan sebagai Mesin Regenerasi

Salah satu kekuatan Wahdah Islamiyah yang menurut saya layak dicatat adalah kesadarannya terhadap pentingnya pendidikan. Dari pengajaran Al-Qur’an, pendidikan guru, sekolah, pesantren hingga STIBA, pendidikan ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang gerakan.

Sebuah organisasi dakwah yang hanya mengandalkan popularitas tokoh akan mudah kehilangan tenaga ketika tokohnya tidak lagi aktif. Tetapi organisasi yang membangun sekolah, pesantren, kader, sistem pembinaan dan jaringan sosial memiliki kemampuan regenerasi.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *