News

Dari Genggaman Smartphone, Merawat Identitas Bugis-Makassar


PORTALUTAMA.NET, MAKASSAR — Bagaimana jika smartphone yang setiap hari digunakan untuk berkomunikasi, mencari informasi, dan berselancar di media sosial ternyata juga dapat menjadi alat untuk merancang motif batik?

Pertanyaan sederhana itu menjadi pintu masuk dalam Pelatihan & Produksi Desain Ragam Hias Batik Bugis-Makassar untuk Penguatan Identitas dan Ekonomi Kreatif yang dilaksanakan selama dua hari, Rabu–Kamis, 19–20 Agustus 2026, di Cafe Es Teler Tanah Abang BTP Blok M, Kota Makassar.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) DPPM Kemendiktisaintek, yang mempertemukan pengetahuan budaya, kreativitas masyarakat, teknologi digital, dan peluang ekonomi kreatif.

Sebanyak 25 peserta mengikuti pelatihan. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam: 18 peserta dari Makassar melalui DPC LSABS Parewa Bessi, tiga dari Soppeng, dua dari Gowa, satu dari Polewali, Sulawesi Barat, dan satu dari Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Menariknya, sebagian besar peserta bukan desainer profesional. Mereka belum terbiasa membuat desain motif, bahkan sebagian tidak memiliki pengalaman menggunakan perangkat lunak desain. Namun, hampir semuanya memiliki satu perangkat yang sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari: smartphone.

Dari perangkat sederhana itulah proses kreatif dimulai.

Ketika Smartphone Menjadi Alat Kreatif

Peserta diajak memahami bahwa proses desain tidak selalu harus dimulai dari meja gambar atau komputer dengan perangkat lunak yang rumit. Smartphone yang ada di tangan dapat digunakan untuk mencari referensi budaya, mengembangkan gagasan visual, mengeksplorasi bentuk, hingga memanfaatkan aplikasi kecerdasan artifisial atau AI.

Prompt yang digunakan pun dapat dimulai dari instruksi sederhana. Peserta dapat meminta AI mengeksplorasi bentuk visual yang terinspirasi dari lingkungan dan kebudayaan Bugis-Makassar. Hasil eksplorasi kemudian tidak langsung dianggap sebagai karya akhir. Peserta belajar memilih, mengoreksi, mengembangkan, dan mengarahkan hasil tersebut menjadi desain ragam hias yang memiliki karakter budaya serta memungkinkan untuk diproduksi.

Di sinilah terjadi perubahan cara pandang.

Smartphone bukan hanya alat untuk mengonsumsi konten, tetapi juga dapat menjadi alat untuk menciptakan karya.

Teknologi menjadi pintu masuk bagi masyarakat yang sebelumnya merasa tidak memiliki kemampuan desain untuk mulai bereksperimen secara visual.

Budaya Bertemu Teknologi

Ketua Umum LSABS Parewa Bessi, Andi Ashari, ST., menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kebudayaan agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *