Ramai Warga Protes Masuk Desil 10, Ekonom Jelaskan Potensi Kesalahan Data dan Klasifikasi

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Ekonom Arief Anshory Yusuf mengungkap sejumlah alasan dirinya menolak penerapan desil 10 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Saat ini, masyarakat ramai mempertanyakan hasil pengecekan desil pada DTSEN. Sejumlah warga mengaku terkejut setelah mengetahui rumah tangganya masuk desil 9 atau 10, meski kondisi keseharian mereka dinilai jauh dari gambaran kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan tinggi.
Arief secara khusus menyoroti kebijakan desil 10. Ia menguraikan 14 poin terkait kemungkinan kesalahan, kelebihan, hingga kekurangan dalam sistem pengelompokan tersebut.
Salah satu hal yang dipertanyakannya adalah batas bawah desil 10 yang menurutnya perlu dipahami secara tepat.
“Menolak Desil 10. Sebuah utas. [#1] Banyak yang ribut menolak masuk desil 10. Wajar. Alasannya mungkin 2. Yang satu legit dan yang satu lagi mungkin kurang legit,” tulis Arief melalui akun X pribadinya, dikutip Selasa (18/8/2026).
Ia kemudian menjelaskan bahwa pengelompokan desil dilakukan berdasarkan perankingan pengeluaran konsumsi per kapita atau per orang per bulan, bukan berdasarkan pengeluaran satu keluarga.
“[#2] Recap: saat ini pen-desil-an dimaksud adalah pengelompokkan rumah tangga berdasarkan perankingan pengeluaran konsumsi per kapita (per orang per bulan, bukan per keluarga). Kalau mau per keluarga/rumah tangga, kalikan 4 aja (gampangnya),” jelasnya.
Menurut Arief, berdasarkan data SUSENAS Maret 2025, batas bawah desil 10 berada di sekitar Rp2,8 juta per orang per bulan. Jika dihitung untuk keluarga beranggotakan empat orang, nilainya sekitar Rp11 juta per bulan.
“[#3] Berapa batas bawah desil 10? Kalau pakai SUSENAS Maret 2025, batasnya adalah pengeluaran 2,8 juta per-orang per-bulan. Per-orang. Kalau per keluarga kira-kira ya 11 juta. Kali 4 aja. Kerendahan? Gak juga. Kita meranking keluarga dari Papua sampai Menteng ya. Gak elit-elit amat,” tulisnya.
Arief juga membandingkannya dengan kelompok 1 persen terkaya. Menurutnya, batas bawah kelompok tersebut berada di sekitar Rp7,7 juta per orang per bulan atau sekitar Rp31 juta per keluarga.
“[#4] Mau tahu batas bawah percentile ke-100? 1% terkaya? Rp7,7 juta per orang. Per keluarga? Rp31 juta. Lebih masuk akal kan. Kelompok ini ada 280 ribu orang,” lanjutnya.
Ketimpangan di Desil 10
Lebih jauh, Arief mengatakan ketimpangan di dalam kelompok desil 10 justru sangat tinggi. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat perlu berhati-hati dalam memaknai status desil 10.
Source link
