Pertanyakan Nasib 80.000 Kopdes, Tere Liye: Penjualannya Berapa? Jangan-jangan Kalah sama Warteg

Fajar.co.id, Jakarta — Penulis kondang yang juga akuntan, Tere Liye, menyoroti program pembentukan koperasi di berbagai daerah. Lewat unggahan di akun pribadinya, ia mempertanyakan efektivitas dan keberlanjutan program tersebut di tengah gelontoran dana puluhan hingga ratusan triliun rupiah.
“Bagaimana koperasimu hari ini? Sudah jadi bangunannya? Megah? Gagah? Sudah mulai diisi dengan barang-barang? Mobil dari India sudah datang? Manajer yang habis dilatih tentara-tentaran sudah mulai masuk awal Agustus ini?” tulis Tere Liye, Sabtu (1/8/2026).
Ia menyinggung cepatnya waktu berjalan dan besarnya dana yang telah dikucurkan. Menurutnya, ada pihak yang diuntungkan dari proyek pembangunan gedung, pengadaan mobil, hingga pernak-pernik kecil.
“Tidak terasa, waktu terus berjalan ya. Puluhan triliun duit juga tidak terasa telah digelontorkan. Ada yang tertawa lebar sekali, dapat duit proyek bangun gedung, proyek pengadaan mobil-mobil, hingga pernak-pernik kecil seperti kaos kaki pun tetap tertawa lebar,” ujarnya.
Tere Liye kemudian mempertanyakan capaian riil dari koperasi-koperasi tersebut. Ia menyebut pembuktian terpenting telah tiba.
“Bagaimana koperasimu hari ini? Lancar? Berapa pengunjungmu hari ini? Berapa penjualannya? Banyak yang beli? Atau lebih banyak bengong berhari-hari? Stok gas murah Rp16.000 masih ada? Beras-beras murah? Masih ada? Berapa sih penjualanmu per hari? 10 juta? 2 juta? Aduh, warteg sebelah jangan-jangan lebih banyak,” tulisnya.
Bagi Tere, membangun usaha tidak semudah janji kampanye. “Waktu terus berjalan… Dan kalian mulai paham deh, bikin usaha itu tidak semudah ngoceh. Cuap-cuap kampanye. Apalagi halusinasi janji-janji politisi. Dia kira, sim salabim. Teriak SIAP SIAP SIAP selesai masalah? Nggak.”
Prediksi Hanya 2-3% yang Bertahan
Sebagai seorang akuntan, Tere Liye menyoroti soal laporan dan angka. Ia menilai pemerintah masih bisa menggelontorkan dana dari pajak dan utang agar koperasi tetap hidup. Namun, ia pesimistis sebagian besar koperasi akan bertahan.
“Waktu terus berjalan… Keras kepala kalian mulai deh kepentok realitas. 80.000 koperasi ini, berapa yang akhirnya betulan berhasil? 10%? Ngimpi. Paling hanya tersisa 2-3% saja yang hidup segan mati tak mau. Sisanya 78.000 hangus tak bersisa. Dan uang ratusan triliun buat modalnya, hanya menyisakan cicilan yang ditanggung rakyat banyak,” tulisnya.
Ia juga menyindir sikap masyarakat yang cepat melupakan. “Ironisnya. Rakyat sudah pindah joget-joget bahas proyek lain. Tertawa lebar dengan janji-janji politisi berikutnya. Seolah-olah demi mereka, tapi nyatanya elit-elit saja yang terus tambah kaya.”
Source link
