News

Final Piala Dunia 2026: Dua Saudara dalam Rahim Bahasa yang Sama



Oleh: Kasri Riswadi
(Peneliti Bahasa)

Belasan tahun lalu, sebuah kamera tanpa sengaja mengabadikan momen yang kini terasa seperti nubuat kecil dalam sejarah sepak bola. Dalam sebuah kegiatan amal UNICEF di Camp Nou, seorang pemuda berusia 20 tahun tampak memandikan seorang bayi di dalam bak plastik berwarna biru. Pemuda itu adalah Lionel Messi. Bayi itu adalah Lamine Yamal.

Bertahun-tahun kemudian, foto itu kembali beredar luas. Yamal tumbuh menjadi bintang baru tim nasional Spanyol, sementara Messi kembali mengantar Argentina ke partai puncak Piala Dunia 2026. Seolah takdir sedang menyusun alurnya sendiri, bayi yang dahulu dimandikan sang maestro kini berdiri di sisi berlawanan pada panggung terbesar sepak bola dunia.

Sebagian orang membaca final ini sebagai pertarungan Eropa melawan Amerika Latin. Sebagian lagi melihatnya sebagai duel generasi, pengalaman menghadapi masa depan. Namun, dari sudut pandang sosiolinguistik, pertandingan ini menyimpan cerita yang berbeda. Final ini bukan sekadar pertemuan dua negara, melainkan dua saudara yang dipisahkan Samudra Atlantik, tetapi lahir dari rahim bahasa yang sama.

Bahasa yang Melampaui Batas Negara

Spanyol dan Argentina sama-sama menggunakan bahasa Spanyol (Castellano). Memang terdapat perbedaan dialek. Masyarakat Argentina menggunakan voseo, kata vos menggantikan tĂș, serta memiliki intonasi Rioplatense yang dipengaruhi migrasi Italia pada abad ke-19. Namun, variasi itu tidak memisahkan keduanya sebagai komunitas bahasa.

Dalam linguistik historis, voseo justru merupakan warisan bahasa Spanyol klasik yang dibawa ke Amerika sejak masa kolonial. Ketika bentuk itu berangsur ditinggalkan di sebagian wilayah Spanyol, Argentina mempertahankannya sebagai bagian dari identitas nasional. Yang berubah hanyalah aksen dan beberapa pilihan kata; struktur bahasa, sistem makna, dan logika komunikasinya tetap berasal dari akar yang sama.

Artinya, ketika peluit pertandingan dibunyikan nanti, instruksi pelatih, komunikasi antarpemain, hingga teriakan spontan di lapangan lahir dari bahasa yang sama. Tidak ada penerjemah. Tidak ada sekat linguistik. Yang berbeda hanyalah warna jersey.

Bahasa sebagai Rumah Bersama

Dalam Imagined Communities, Benedict Anderson menjelaskan bahwa bangsa merupakan imagined community, komunitas yang dibangun melalui pengalaman bersama, salah satunya bahasa. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga ruang yang membentuk rasa kebersamaan dan identitas kolektif.

Pandangan itu membantu kita membaca hubungan Spanyol dan Argentina secara lebih jernih. Secara politik, keduanya memang berdiri sebagai negara yang berbeda. Namun, secara kebahasaan, keduanya masih berbagi rumah yang sama. Bahasa menjadi jejak sejarah yang terus hidup, melampaui pergantian rezim, perubahan batas negara, bahkan rivalitas olahraga.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *