Topeng Transformasi: Menyelamatkan Koperasi dari Jebakan Masa Lalu

Oleh: Atik Purmiyati
(Dosen FEB UNAIR)
Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) yang kita peringati setiap tanggal 12 Juli bukanlah sekadar rutinitas perayaan historis semata. Momen ini sejatinya adalah waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap perjalanan panjang koperasi di Indonesia.
Pertanyaan utama yang harus kita renungkan bersama adalah, sudahkah koperasi benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi rakyat seperti cita-cita luhur bapak koperasi Indonesia, Mohammad Hatta? Jika melihat realitas di lapangan, perjalanan menuju cita-cita tersebut masih membutuhkan kerja ekstra keras.
Dunia saat ini tengah menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang eskalatif. Mulai dari ketegangan geopolitik dan perang dagang, ancaman inflasi, krisis akibat perubahan iklim, hingga derasnya arus digitalisasi dan disrupsi teknologi yang merombak tatanan bisnis konvensional.
Di tengah badai ini sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menghadapi arena persaingan yang semakin berat dan kompleks. Oleh karena itu, Indonesia sangat membutuhkan model ekonomi yang tangguh dan inklusif untuk memproteksi sekaligus memberdayakan masyarakat di akar rumput.
Dalam konteks inilah, mengapa koperasi tetap sangat relevan. Koperasi secara filosofis dan struktural berbeda dengan badan usaha kapitalis lainnya. Tujuan utama pendiriannya bukanlah semata-mata mengejar akumulasi laba bagi segelintir pemodal, melainkan mewujudkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi para anggotanya.
Koperasi menjadi instrumen strategis untuk pemerataan ekonomi, menjembatani kesenjangan sosial yang kian lebar. Konsep ekonomi gotong royong yang menjadi ruh koperasi justru menemukan momentum relevansinya di era modern ini.
Sayangnya, potensi besar koperasi di Indonesia masih berbanding terbalik dengan kontribusinya. Berdasarkan data Kementerian Koperasi (2026), jumlah koperasi aktif di Indonesia mencapai lebih dari 224 ribu unit dengan total anggota sekitar 34 juta orang. Aset dan volume usaha koperasi pun tercatat terus mengalami tren peningkatan.
Namun, kontribusi koperasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional masih tertahan di kisaran 5,5 persen. Angka ini masih relatif kecil jika disandingkan dengan negara-negara maju, di mana koperasi mampu menyumbang lebih dari 10 hingga 20 persen terhadap PDB negaranya.
Ada beberapa determinan utama penyebab koperasi kita sulit berkembang pesat. Pertama, masih banyak koperasi yang terjebak pada operasional yang bersifat administratif dan konvensional. Kedua, Sumber Daya Manusia (SDM) dan jajaran pengurus kerap kurang memiliki kompetensi manajerial yang profesional.
Source link
