News

Pencarian Berkah di Gunung Kemukus Berakhir Petaka, Dompet Kosong Kena Modus Dukun Palsu



PORTALUTAMA.NET, SRAGEN — Bagi Nur Subakir, seorang warga Sidoarjo, ziarah ke kawasan mistis Gunung Kemukus di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, awalnya adalah perjalanan mencari ketenangan spiritual.

Namun, di sanalah benih petaka itu mulai tertanam. Alih-alih mendapat berkah, ia justru terjebak dalam pusaran tipu daya berkedok mistis yang menguras dompetnya hingga puluhan juta rupiah.

Semua bermula dari sebuah perkenalan beraroma kebetulan. Di tengah riuh peziarah, Nur bertemu dengan Misrianto (53), pria asal Kota Malang yang pandai bersilat lidah. Dengan tutur kata yang meyakinkan, Misrianto menawarkan sebuah jalan pintas menggiurkan, sebuah ritual kuno bernama “uang balen”, ilmu spiritual yang diklaim mampu mengembalikan uang yang telah dibelanjakan ke kantong pemiliknya.

Untuk memuluskan siasatnya, Misrianto tak bergerak sendiri. Ia memperkenalkan Nur kepada Abdul Rosid Wijaya (49), pria asal Pasuruan yang didapuk sebagai “guru spiritual” atau kiai sakti yang memegang kunci ritual tersebut.

Kombinasi sandiwara keduanya berhasil meruntuhkan logika korban. Terbuai oleh janji manis harta yang tak kunjung habis, Nur pun sepakat untuk ikut ritual. Syaratnya? Ia harus membawa uang tunai sebesar Rp22 juta sebagai mahar utama.

Ritual Palsu di Pelataran Masjid

Senja belum sepenuhnya turun pada 17 Juni 2026. Sekitar pukul 16.00 WIB, halaman Masjid Al-Falah di Desa Gondang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, menjadi saksi bisu terjadinya drama penipuan tersebut. Tempat ibadah sengaja dipilih pelaku untuk menebarkan aura religius palsu demi membuang jauh-jauh rasa curiga dari benak Nur.

Di bawah bimbingan Abdul Rosid yang berlagak khusyuk memimpin ritual, Nur menyerahkan tas berisi lembaran uang asli senilai Rp22 juta. Prosesi berlangsung cepat, penuh kepulan asap dan rapalan doa tipu-tipu. Dengan kecepatan tangan yang terlatih, Abdul Rosid menukar tas penuh uang tersebut dengan sebuah amplop putih tebal.

“Ini hasil ritualnya. Jangan dibuka dulu sebelum sampai waktu yang ditentukan,” mungkin begitu bisikan magis yang ditiupkan pelaku ke telinga korban.

Namun, rasa penasaran Nur tak terbendung. Tak lama setelah kedua “orang pintar” itu pamit, Nur membuka amplop putih tersebut dengan dada berdebar. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati isi di dalamnya. Bukan lembaran rupiah merah bergambar Soekarno-Hatta yang ia temukan, melainkan tumpukan potongan kertas putih polos yang digunting rapi menyerupai ukuran uang pecahan Rp100 ribu.

Seketika itu juga, harapan Nur ambruk. Ia sadar telah diperdaya oleh dukun palsu.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *