News

Masa Depan Kedokteran: Mengoreksi “Salah Ketik” dalam DNA Manusia



Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.

Alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, dokter riset, dosen, peneliti, penulis puluhan buku, kolumnis, reviewer jurnal internasional terindeks Scopus Q1, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, dan pelopor NiBTM.

PORTALUTAMA.NET – Satu huruf keliru dalam DNA dapat mengubah nasib biologis seseorang. Pada sebagian orang, perubahan sekecil itu mungkin tidak menimbulkan apa pun. Pada orang lain, ia dapat memicu kelainan darah, gangguan imun, penyakit metabolik, kebutaan bawaan, kerusakan saraf, atau kanker ketika sistem pengendali sel kehilangan ketertibannya.

Tubuh manusia bekerja dengan tata bahasa molekuler yang sangat halus. Empat huruf DNA, yakni A, T, G, dan C, menyusun instruksi kehidupan yang menentukan bagaimana protein dibuat, bagaimana sel berkomunikasi, bagaimana jaringan memperbaiki diri, dan bagaimana sistem imun membedakan kawan dari lawan.

Kedokteran modern selama puluhan tahun berjuang menangani akibat dari kesalahan itu. Dokter memberi obat untuk mengurangi gejala, melakukan transfusi, menekan peradangan, mengganti enzim yang kurang, mencangkok organ, atau memasang alat bantu agar fungsi tubuh tetap bertahan. Semua pendekatan itu penting dan telah menyelamatkan jutaan nyawa.

Namun, banyak penyakit genetik tetap menyisakan masalah mendasar: akar biologisnya tertulis di tingkat DNA. Selama akar itu tidak dikoreksi, terapi sering berjalan seperti pekerjaan tanpa akhir, mahal, melelahkan, dan tidak selalu menyentuh sumber persoalan.

Beberapa tahun terakhir, gagasan memperbaiki kesalahan genetik tidak lagi berhenti di ruang seminar. Persetujuan Casgevy oleh Food and Drug Administration Amerika Serikat pada Desember 2023 menjadi penanda penting bahwa penyuntingan genom telah masuk ke praktik klinis modern. Casgevy adalah terapi berbasis CRISPR/Cas9 untuk penyakit sel sabit pada pasien tertentu, dengan cara memodifikasi sel punca darah pasien sendiri agar produksi hemoglobin janin meningkat.

Sementara itu, prime editing mulai bergerak dari laboratorium menuju uji klinis manusia melalui kandidat terapi investigasional seperti PM359 untuk chronic granulomatous disease, suatu penyakit imunodefisiensi herediter yang membuat pasien rentan terhadap infeksi berat. Perkembangan ini mengubah arah percakapan kedokteran: dari sekadar membaca mutasi menjadi berupaya mengoreksinya.

Bagi Indonesia, pesan utamanya jelas: kita tidak perlu tergesa-gesa menjadi pengguna terapi gen yang mahal, tetapi harus segera menjadi bangsa yang siap secara genomik, etik, regulatif, klinis, dan pembiayaan kesehatan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *