News

Epidemi Nikotin dengan Wajah Baru



Oleh: dr. Bulkis Natsir, Sp.P(K)
Ketua Bidang Ilmiah dan Penelitian PDPI Sulselbarra, Staf Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK Unhas

PORTALUTAMA.NET – Dunia mungkin sudah semakin modern, tetapi industri tembakau selalu menemukan cara untuk mempertahankan konsumennya. Ketika kampanye bahaya rokok konvensional semakin luas, muncul produk-produk baru dengan kemasan lebih menarik, rasa lebih manis, dan citra yang terlihat “lebih aman”. Padahal, dampak konsumsi nikotin tidak pernah benar-benar berhenti pada satu individu.

Anak yang terpajan asap rokok di rumah, remaja yang mulai mencoba rokok elektronik (vape) karena dianggap tren, hingga meningkatnya beban penyakit kronis di rumah sakit merupakan konsekuensi yang harus ditanggung bersama.

Secara epidemiologis, Indonesia masih berada dalam situasi yang memprihatinkan terkait konsumsi tembakau. Data Survei Kesehatan Indonesia menunjukkan prevalensi perokok pada penduduk usia ≥15 tahun masih berada pada angka yang tinggi, terutama pada laki-laki dewasa. Perilaku merokok mulai muncul pada usia yang semakin muda. Berbagai laporan nasional menunjukkan kelompok remaja menjadi sasaran yang sangat rentan terhadap pajanan nikotin, baik melalui rokok konvensional maupun rokok elektronik (vape).

Beberapa tahun terakhir, penggunaan vape pada remaja meningkat seiring promosi produk yang dikemas secara kekinian, memiliki beragam rasa, dan dianggap lebih aman dibanding rokok biasa, meskipun bukti ilmiah menunjukkan risiko adiksi nikotin tetap besar.

Dampak kondisi ini tidak hanya dirasakan pada sektor kesehatan, tetapi juga ekonomi. Penyakit terkait tembakau seperti penyakit paru kronik, kanker, stroke, dan penyakit jantung menyebabkan tingginya biaya pengobatan serta hilangnya produktivitas masyarakat usia produktif. Berbagai studi menunjukkan bahwa beban ekonomi akibat konsumsi tembakau di Indonesia mencapai angka yang sangat besar setiap tahunnya, mencakup biaya pelayanan kesehatan, kehilangan hari kerja, hingga kematian dini.

Ironisnya, keuntungan ekonomi dari industri tembakau sering kali tidak sebanding dengan besarnya beban sosial dan kesehatan yang harus ditanggung masyarakat.

Industri tembakau menunjukkan kemampuan beradaptasi yang sangat cepat terhadap perubahan perilaku masyarakat dan perkembangan zaman. Ketika kesadaran publik terhadap bahaya rokok konvensional meningkat, pendekatan pemasaran pun ikut berubah.

Produk nikotin kini tidak lagi selalu tampil dalam bentuk rokok dengan asap tebal dan bau menyengat, tetapi hadir sebagai perangkat elektronik dengan desain elegan, ukuran praktis, serta berbagai pilihan rasa yang menarik. Perubahan ini secara tidak langsung membentuk citra baru bahwa konsumsi nikotin dapat terlihat lebih “bersih”, futuristik, dan dapat diterima secara sosial.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *