Irma Suryani Tantang Pengkritik Gibran Buktikan Kompetensi

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Irma Suryani Chaniago, menantang para pengkritik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk membuktikan kemampuan dan kompetensi mereka melalui kerja nyata di tengah masyarakat.
Irma menyampaikan tantangan tersebut saat menanggapi kritik sejumlah tokoh terhadap Gibran, termasuk Refly Harun, Denny Indrayana, dan Roy Suryo. Menurutnya, orang yang merasa memiliki kapasitas seharusnya berani menunjukkan kemampuan secara langsung kepada masyarakat, bukan hanya menyampaikan kritik di ruang publik.
Dalam pernyataan yang dikutip PORTALUTAMA.NET, Selasa (13/10/2026), Irma juga menyindir pihak-pihak yang dinilainya terlalu banyak berkomentar tanpa memperlihatkan kiprah nyata.
“Mohon maaf ya mungkin karena kebanyakan yang terlalu ribut itu mohon maaf ya enggak punya pekerjaan tetap,” ujar Irma.
Ia kemudian mempertanyakan aktivitas profesional orang-orang yang dikritiknya. Irma menduga sebagian dari mereka mungkin berharap mendapatkan jabatan di pemerintahan, mulai dari komisaris hingga wakil menteri dan menteri.
“Jadi pekerjaannya apa dong? Jadi pengen para orang-orang, orang-orang yang merasa dirinya pinter loh kan. Hm. pengen jadi komisaris mungkin, mungkin ya,” katanya.
Irma menegaskan bahwa dugaan tersebut bukan kepastian.
“Kan saya bilang mungkin nih. Pengen diangkat jadi wamen, mungkin mau diangkat jadi menteri, misalnya begitu, ngerasa dirinya pantas nih,” imbuhnya.
Pernyataan itu merupakan sindiran Irma terhadap para pengkritik Gibran. Tidak ada bukti dalam naskah sumber yang memastikan bahwa mereka tidak memiliki pekerjaan tetap atau sedang mengincar jabatan di pemerintahan.
Irma Soroti Perbedaan Penilaian Diri dan Publik
Irma juga menyoroti perbedaan antara penilaian seseorang terhadap kemampuannya sendiri dan penilaian masyarakat terhadap orang tersebut.
“Mereka nggak sadar bahwa eh, lu bilang lu A, orang ngeliat lu, tapi orang bilang eh lu tuh cuman C loh gitu ya,” ujarnya.
Menurut Irma, klaim mengenai kecerdasan, kekuatan, atau kompetensi tidak otomatis mencerminkan penilaian publik. Ia menilai kemampuan seseorang perlu dibuktikan melalui tindakan dan kontribusi yang dapat dilihat masyarakat.
“Harusnya kan dia sadar itu gitu loh. Tapi kan nggak sadar, dia ngerasa dirinya hebat, pinter, kuat gitu ya. Punya kompetensi kan itu yang selalu orang-orang ini tampilkan ke publik,” tuturnya.
Ia kemudian melanjutkan kritiknya dengan pernyataan, “Padahal kan nothing juga kalau.”
Pandangan tersebut menunjukkan penekanan Irma pada pembuktian kemampuan melalui kiprah nyata. Namun, penilaian mengenai kapasitas para pengkritik tetap merupakan pendapat Irma, bukan hasil pengukuran independen terhadap kompetensi mereka.
Source link
