News

Prof Zainal Bicara Kemenangan Gibran di Solo: Kompetisinya Ada, tapi Aturannya Dirusak



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Perjalanan politik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi bahan perbincangan, termasuk ketika dirinya maju dalam Pilwalkot Solo 2020.

Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Zainal Arifin Mochtar, mengungkit proses politik yang mengantarkan Gibran memenangkan kontestasi di Solo tersebut.

Prof Uceng, sapaannya, menyampaikan pandangannya ketika membahas bagaimana kompetisi politik dapat berlangsung, tetapi menurutnya aturan dan proses pencalonan tetap dapat memengaruhi peta persaingan.

Uceng Ungkit Pilwalkot Solo

Uceng blak-blakan meminta publik melihat kembali perjalanan Gibran ketika maju sebagai calon wali kota Solo.

“Tahu nggak bagaimana Gibran menang di pemilu Solo? Gibran kan sempat jadi wali kota Solo, kan? Anda tahu ceritanya?,” ujar Uceng, dikutip fajar.co.id, Kamis (1/10/2026).

“Menurut saya Anda harus baca-baca. Dan ceritanya itu dulu, dia maju. Karena sangat kuat anaknya Presiden, tidak mungkin kalah,” tambah pakar hukum tata negara ini.

Pada Pilwalkot Solo atau Surakarta 2020, Gibran berpasangan dengan Teguh Prakosa dan menghadapi pasangan Bagyo Wahyono-F.X Supardjo.

Gibran Lawan Boneka Politik

Uceng kemudian mengemukakan pandangannya mengenai pasangan yang menjadi lawan Gibran dalam Pilwalkot Solo 2020.

“Nggak ada kemudian yang ngelawan. Diciptakanlah yang namanya lawan boneka, kan? Yang entah siapa, gitu,” tukasnya.

Ia juga menyinggung keberadaan pasangan lawan tersebut yang disebutnya pernah dipanggil ke Istana.

“Bahkan lawan boneka ini dipanggil ke istana, coba bayangkan lawannya anaknya dipanggil ke istana,” jelasnya.

Ada Dugaan Tawaran untuk Memuluskan Jalan Gibran

Lebih jauh, Uceng menuturkan bahwa terdapat dugaan mengenai adanya tawaran tertentu kepada pihak yang menjadi lawan Gibran.

“Kemudian ya walau a’lam, ada perdebatan soal ditawarin hal-hal tertentu. Jadilah kemenangannya mudah,” terangnya.

Ia tidak merinci lebih jauh mengenai tawaran yang dimaksud dalam pernyataannya.

Uceng kemudian menggarisbawahi pandangannya mengenai hubungan antara kompetisi politik dan proses pencalonan.

“Saya lupa kemenangan Gibran itu 90 persen kalau gak salah,” tandasnya.

“Ini yang saya sebut bahwa kompetisinya ada, tapi aturannya udah dirusak. Kompetisinya ada, tapi kandidasinya diatur,” kuncinya.

Seperti diketahui, Gibran Rakabuming Raka bersama Teguh Prakosa memperoleh 225.451 suara atau 86,54 persen dari total suara sah pada Pilwalkot Solo 2020.

Sementara lawannya, Pasangan Bagyo-Suparjo (Bajo) hanya memperoleh 35.055 suara atau 13,46 persen.

(Muhsin/fajar)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *