Dokter Tifa: Terdakwa Itu Posisi Terhormat karena Saya Mempertahankan Diri

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Dokter Tifauzia Tyasumma mengungkap sisi lain yang ia rasakan selama menjalani proses hukum sebagai terdakwa.
Ia menyebut status tersebut menghadirkan ironi tersendiri bagi dirinya yang selama ini mengaku sebagai seorang ilmuwan dan terbiasa bekerja dengan pertanyaan, data, serta pembuktian.
Kini, berbagai pertanyaan justru diarahkan kepadanya dari ruang sidang.
Ilmuwan Duduk di Kursi Terdakwa
Dokter Tifa menggambarkan posisinya sebagai terdakwa sebagai situasi yang penuh paradoks. Sebagai ilmuwan, ia terbiasa mempertanyakan setiap hal yang berkaitan dengan sebuah klaim.
“Ada sebuah ironi besar ketika saya, seorang ilmuwan duduk di kursi terdakwa. Seumur hidup saya dilatih untuk menghadapi pertanyaan,” ujar Tifa, dikutip fajar.co.id, Jumat (28/8/2026).
Kata dia, menjadi terdakwa bukan hanya berkaitan dengan perubahan status dalam proses hukum. Ia melihat kondisi tersebut juga memberikan tekanan terhadap tubuh dan pikiran seseorang.
“Mengapa? Apa buktinya? Bagaimana mekanismenya? Bisakah hipotesis itu diuji? Tetapi hari ini, pertanyaan itu diarahkan kepada saya,” sebutnya.
Dokter Tifa kemudian menjelaskan kondisi tersebut dari perspektif neurosains.
“Secara neurosains, menjadi terdakwa bukan sekadar perubahan status hukum, melainkan erubahan konteks biologis, otak berhadapan dengan ancaman, ketidakpastian, evaluasi sosial, dan kemungkinan konsekuensi besar dalam waktu yang bersamaan,” ucapnya.
Kata dia, kondisi tersebut dapat membuat sistem deteksi ancaman bekerja lebih aktif.
“Apa yang terjadi pada otak, tubuh, dan metabolisme? Sistem deteksi ancaman bekerja. Perhatian menjadi lebih waspada. Tubuh bersiap menghadapi tekanan,” jelasnya.
Pada saat bersamaan, ia mengatakan otak tetap dituntut untuk bekerja secara optimal dalam menghadapi proses persidangan.
“Dan pada saat yang sama, korteks prefrontal dituntut tetap bekerja optimal, berpikir jernih, mengingat fakta, memahami pertanyaan, mengendalikan impuls, dan menyusun jawaban,” lanjutnya.
Otak Dituntut Jernih di Tengah Ancaman
Dokter Tifa menyebut kondisi tersebut sebagai sebuah paradoks.
“Di sinilah paradoksnya. Otak yang sedang menghadapi ancaman justru diminta menghasilkan kejernihan intelektual,” tuturnya.
Baginya, tantangan tersebut menjadi semakin besar bagi seseorang yang terbiasa bekerja sebagai ilmuwan.
“Dan bagi seorang ilmuwan, tantangan itu menjadi lebih besar. Karena seorang ilmuwan terbiasa berdiri di luar objek penelitian,” ucapnya.
Ia menjelaskan, seorang ilmuwan biasanya berada pada posisi mengamati, mengukur, menguji, dan mempertanyakan objek yang diteliti.
Source link
