UGM Jawab Tuntas Polemik Ijazah Jokowi, Font Skripsi, Nomor Seri hingga Fakta Percetakan Era 1980-an

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Keraguan terhadap jejak akademik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menjadi perbincangan. Sejumlah pihak mempertanyakan keaslian dokumen akademik Jokowi, mulai dari skripsi hingga ijazah.
Salah satu hal yang disorot adalah penggunaan font Times New Roman pada sampul dan lembar pengesahan skripsi Jokowi. Pihak yang mempertanyakan dokumen tersebut menilai font itu belum lazim digunakan pada era 1980-an hingga 1990-an.
Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta, membantah anggapan tersebut. Ia menilai penggunaan jenis huruf pada sampul dan lembar pengesahan tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa dokumen akademik seseorang tidak autentik.
Menurut Sigit, penilaian terhadap dokumen lama seharusnya dilakukan dengan melihat konteks pada zamannya. Ia juga meminta pihak yang meragukan dokumen Jokowi melakukan perbandingan dengan ijazah dan skripsi mahasiswa lain yang diterbitkan pada periode yang sama di Fakultas Kehutanan UGM.
Sigit menjelaskan sampul dan lembar pengesahan skripsi pada masa tersebut memang dapat dibuat menggunakan jasa percetakan di sekitar kampus.
Ia menyebut sejumlah percetakan, seperti Prima dan Sanur, pernah menyediakan jasa pencetakan sampul skripsi bagi mahasiswa UGM.
“Bahkan di sekitaran kampus UGM itu sudah ada percetakan seperti Prima dan Sanur (sudah tutup-red) yang menyediakan jasa cetak sampul skripsi,” kata Sigit, dikutip dari situs resmi UGM, Minggu (16/8/2026).
Menurutnya, penggunaan jasa percetakan untuk bagian tertentu dari skripsi merupakan hal yang lazim pada masa itu. Karena itu, penggunaan jenis huruf tertentu pada sampul maupun lembar pengesahan tidak otomatis menunjukkan adanya kejanggalan.
Sigit mengatakan kondisi tersebut juga dapat dilihat pada skripsi mahasiswa lain dari periode yang sama.
“Ada banyak skripsi mahasiswa yang menggunakan sampul dan lembar pengesahan dengan mesin percetakan,” ujarnya.
Sementara itu, bagian utama skripsi Jokowi yang terdiri dari 91 halaman disebut masih menggunakan mesin ketik. Perbedaan antara sampul dan isi skripsi tersebut, menurut Sigit, perlu dipahami dalam konteks teknologi pencetakan pada masa itu.
Selain font, nomor seri pada ijazah Jokowi juga menjadi salah satu hal yang dipersoalkan.
Sigit menjelaskan sistem penomoran ijazah di Fakultas Kehutanan UGM pada masa Jokowi belum menggunakan sistem yang seragam di tingkat universitas.
Kala itu, Fakultas Kehutanan memiliki kebijakan penomoran tersendiri. Sistem tersebut tidak hanya digunakan untuk ijazah Jokowi, tetapi juga diterapkan kepada lulusan Fakultas Kehutanan lainnya.
Source link
