News

2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Hendri Satrio: Jokowi Bikin Prabowo Susah Bergerak



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pengamat politik Hendri Satrio menyampaikan analisis tajam mengenai peta kondisi sosial dan politik nasional tepat pada momentum dua tahun usia pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Ia menyoroti fenomena di mana masyarakat luas seolah dibiarkan untuk memutar otak dan mencari jalan masing-masing demi bertahan hidup (survive) di tengah tekanan ekonomi serta polemik kebijakan publik belakangan ini.

Melalui evaluasi kritisnya pada Selasa (20/10/2026), Hendri menilai daya tahan (resilience) masyarakat Indonesia memang teruji dalam menghadapi situasi sesulit apa pun, meskipun dukungan atau rapor dari jajaran pemerintah berada pada taraf negatif.

“Karena kita diperintahkan survive, ya sudah kita lakukan dengan sendiri-sendiri, caranya macam-macam,” tandas Hendri, Selasa (20/10/2026).

Hendri menambahkan bahwa karakter masyarakat yang luwes dalam beradaptasi dinilai berpotensi membuat Istana berada di zona nyaman. Menurutnya, pemerintah terkesan memahami betul bahwa warga Indonesia akan selalu menemukan cara untuk bangkit dari kesulitan.

“Indonesia dijajah cuma bahagia tetap. Kelihatannya pemerintah kita menyadari hal itu bahwa rakyatnya bisa survive,” katanya.

Namun, di balik ketangguhan warga tersebut, Hendri menggarisbawahi hadirnya kerumitan struktur masalah yang kini membebani kepemimpinan Presiden Prabowo.

Kompleksnya persoalan politik dan ekonomi nasional dinilainya membuat sang kepala negara mengalami kesulitan dalam menjaring figur-figur terbaik untuk mengisi pos kabinet.

“Jadi sekarang permasalahannya sedemikian kompleksnya sampai akhirnya Pak Prabowo sendiri, menurut saya, kebingungan untuk mendapatkan orang terbaiknya untuk membantu dirinya,” jelasnya.

Lebih jauh, pendiri lembaga survei KedaiKOPI itu menduga akar kendala tersebut dipicu oleh kondisi awal saat transisi kekuasaan. Menurut Hendri, Presiden Prabowo tidak mengawali kepemimpinannya dari titik nol atau situasi yang ideal, melainkan dari sisa beban warisan pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Ia menggambarkan tantangan evaluasi kinerja pemerintahan Prabowo dengan perumpamaan skala angka untuk mengukur sejauh mana ruang gerak yang tersisa bagi Kabinet Merah Putih.

“Apakah seorang Prabowo memulai pemerintahan ini dari angka 10 dan 10, atau dari angka 5 dari 10, atau dari angka nol dari 10?” tanya Hendri Satrio.

Hendri secara terbuka menduga bahwa kepemimpinan Jokowi periode lalu telah meninggalkan fondasi yang membatasi ruang akselerasi dan keputusan strategis Presiden Prabowo dalam mengeksekusi program-program unggulannya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *