Drone Emprit: Amarah Publik Memuncak, 223 Juta Engagement Soroti Ijazah Gibran dan Keretakan Jokowi-Prabowo

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Isu keabsahan ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka serta gelombang desakan pemakzulan terhadap dinasti politik mantan Presiden Joko Widodo terus memantik diskursus luas di ruang digital. Percakapan publik di media sosial tercatat meledak dengan sentimen didominasi amarah dan kekecewaan.
Lead Analyst Drone Emprit, Rizal Nova Mujahid, membeberkan sejumlah temuan menarik terkait dinamika percakapan dan sentimen netizen dalam bincang khusus di kanal YouTube Forum Keadilan TV berjudul “DRONE EMPRIT: DINASTI SOLO BABAK BELUR DITUDING NETIZEN”, sebagaimana dikutip fajar.co.id, Selasa (20/10/2026).
Menurut Nova, percakapan soal ijazah Gibran sudah dipantau Drone Emprit sejak sebelum sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) digelar hingga putusan dibacakan. Tren percakapan terus meninggi dan menunjukkan antusiasme publik yang luar biasa.
“Yang paling menarik adalah percakapan menjadi sangat tinggi. Kami memantau percakapan tentang ijazah Gibran ini sejak sebelum dan selama disidangkan di MK, dan trennya terus meninggi hingga putusan dibacakan. Engagement-nya luar biasa besar, menunjukkan publik betul-betul menunggu persidangan demi persidangan di MK,” ujar Nova.
Ia menjelaskan, pasca-putusan MK volume unggahan memang menurun sedikit, namun tingkat engagement tetap tinggi. Hal itu menandakan publik masih mengantisipasi langkah selanjutnya terhadap Gibran, terutama setelah MK menyerahkan bola panas kepada DPR.
Dari sisi emosi, sistem Social Network Analysis (SNA) Drone Emprit merekam emosi dominan berupa kemarahan atau anger, disertai antisipasi dan kejijikan atau disgust yang berada di posisi atas.
“Kalau kita lihat dari SNA emosi kami, percakapan terkonsentrasi di satu klaster besar dengan emosi dominan berupa kemarahan serta antisipasi. Ada pula emosi kejijikan yang berada di posisi atas. Mengapa publik marah? Karena mereka merasa ditipu dan diremehkan intelektualitasnya,” ungkap Nova.
Nova menyebut, rangkaian kejanggalan yang terungkap membuat emosi publik campur aduk. Tercatat ada sekitar 223 juta engagement hanya dalam sepekan, angka yang dinilai sangat tinggi untuk satu isu politik.
“Rentang waktunya sangat jauh dari Pemilu 2019 hingga 2024. Tercatat ada sekitar 223 juta engagement hanya dalam sepekan, angka yang sangat tinggi,” katanya.
Kemarahan publik, lanjut Nova, tidak hanya bertumpu pada soal ada atau tidaknya ijazah, tetapi juga menyangkut etika kepemimpinan keluarga Solo. Luka lama seperti Putusan MK Nomor 90 Tahun 2023 yang menjadi gerbang Gibran masuk kontestasi Pilpres kembali terseret ke permukaan.
Source link
