News

Alasan Prof Jimly Usul Hapus Syarat Ijazah Capres-Cawapres: Brazil dan Filipina Cukup Baca Tulis



PORTALUTAMA.NET,JAKARTA — Eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie mengungkapkan alasannya menyarankan untuk hapus syarat ijazah calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).

Dia menyebut tidak banyak negara yang menerapkan aturan wajib ijazah SMA sederajat. Segelintir di antaranya, ialah negara di Afrika.

“Negara yang syaratkan tanda lulus SLTA untuk dipilih jadi kepala negara, cuma beberapa: Indonesia, Nigeria, Uganda & Zimbabwe,” kata Jimly dikutip dari unggahannya di X, Sabtu (17/10/2026).

Sementara di negara Eropa dan Amerika, dia menyebut tidak ada.

“Sedangkan Turki & Azenbajan, harus S1. Selebihnya di Amerika, Eropa & Asia tidak ada syarat pndidikan formal,” ucapnya.

“Bahkan di Brazil & Filipina cukup bisa baca tulis,” sambung Jimly.

Di sisi lain, dia melihat Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) sejak 2004 selalu ada muatan ijazah. 

“Di RI sejak pemilu 2004-2024, PHPU MK selalu ada soal ijzah palsu yang ternyata paling mudah jadi alat politik,” ucapnya.

“K.l. 10% perkara PHPU ada kaitan ijazah. Bahkan 40 kasus pilkada 2024, 7 (+1 Babel) terkat ijazah palsu,” tambah Jimly.

Jimly juga menyentil kasus Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) hingga Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Ijazah Jokowi belum tuntas ada lagi Gibran. Apa mau trus gini ke depan,” pungkasnya.

Berkali-kali Minta Dihapus

Usulan Jimly ini bukan pertama kalinya. Usai putusan PHPU terkait keabsahan ijazah Gibran, dia mengungkapkan hal serupa.

Jimly menilai iklim demokrasi di Indonesia saat ini masih berjalan dangkal. Ia menyoroti energi bangsa yang terus terkuras hanya untuk memperdebatkan urusan administrasi ijazah selama bertahun-tahun.

Karenanya, kelayakan seorang pemimpin negara menurutnya diserahkan sepenuhnya kepada kedaulatan rakyat.

“Dihilangkan saja syarat ijazah itu di undang-undang Pilpres. Yang penting masyarakat diberi tahu latar belakang pendidikannya secara transparan, misalnya hanya tamat SD atau TK. Kalau rakyat tetap percaya dan memilih, kenapa tidak?” Kata Jimly di kawasan gedung MK di Jakarta, Rabu (7/10/2026)/

Jimly memberi gambaran tokoh-tokoh besar.

Menurutnya banyak yang sukses memimpin dan memberikan pengaruh luas tanpa mengandalkan ijazah formal yang tinggi. Seperti Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva hingga tokoh nasional Buya Hamka.

Berbanding terbalik dengan syarat eksekutif, Jimly justru mendorong pengetatan syarat pendidikan bagi calon anggota legislatif (caleg).

(Arya/Fajar)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *